Ajak Masyarakat Lihat Nilai Sejarah dan Budaya, PDIL SCU Kenalkan Model Mitigasi Cerdas untuk Penataan Koridor Kali Semarang

Penataan Kali Semarang menjadi sorotan dalam Webinar “Sustain Talk” gelaran Program Studi Doktor Ilmu Lingkungan (PDIL) Soegijapranata Catholic University (SCU). Rabu (2/9). Mengusung tema “Menata Sungai Penjaga Sejarah,” diskusi merespons persoalan rob; amblesan; kepadatan kawasan, serta; kerusakan lingkungan di Koridor Kali Semarang.

Hal tersebut turut disoroti: Ir. Transiska Luis Marina, S.T., M.M. (Ka. Bidang Tata Ruang, Dinas Penataan Ruang (Distaru) Kota Semarang); Ida Rahayu Widowati, S.T., M.T. (Alumna PDIL SCU; Engineering Consultant), serta; Dr. Ir. Robert Riyanto Widjaja, M.T. (Dosen PDIL SCU). Mereka berdiskusi bersama pemangku kepentingan, akademisi, mahasiswa, alumni, praktisi, hingga masyarakat.

Model Mitigasi Cerdas untuk Koridor Kali Semarang

Webinar ini memperkenalkan MCI-KALI sebagai model mitigasi cerdas untuk mengidentifikasi tingkat kerentanan pada Koridor Kali Semarang. Model dikembangkan dengan mempertimbangkan 3 aspek: kondisi fisik dan sejarah; kepadatan serta pemanfaatan lahan, dan; kesehatan sungai.

Kondisi fisik dan sejarah mencakup: amblesan; banjir rob, serta; nilai cagar budaya. Sementara, aspek kepadatan dan pemanfaatan lahan mempertimbangkan: Koefisien Dasar Bangunan (KDB); ruang terbuka hijau, serta; jenis aktivitas di kawasan. Adapun kesehatan sungai dinilai melalui: kualitas air; lebar sungai, dan; vegetasi tepian.

Ketiga aspek digunakan untuk menghasilkan skor kerentanan dan peta prioritas pada setiap segmen sungai sepanjang 500 meter. Pendekatan ini diharapkan dapat membantu pemerintah menentukan kawasan yang membutuhkan: normalisasi; revitalisasi, maupun; konservasi.

Maka dari itu, pengembangan MCI-KALI diarahkan agar selaras dengan Detail Engineering Design (DED) Kali Semarang yang telah disusun Distaru Kota Semarang. Dalam hal ini, khususnya pada Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) Kota Lama Semarang.

Sungai dalam Sejarah, Budaya, dan Identitas

Menurut Ketua PDIL SCU, Prof. Dr. Theresia Dwi Hastuti, M.Si., Akt., sungai semestinya tidak hanya dipandang dari fungsi ekologis dan infrastrukturnya. Ia pun mencontohkan penataan Kali Semarang di Kawasan Kota Lama Semarang, yang juga menjadi kawasan bersejarah dan cagar budaya. “Ada kandungan nilai sejarah, identitas, budaya, hak sosial, dan juga perkembangan sebuah kota yang melekat pada sebuah sungai,” jelasnya.

Hal yang sama diungkapkan Dekan Fakultas Ilmu dan Teknologi Lingkungan (FITL) SCU, Benediktus Danang Setianto, S.H., LLM., MIL., Ph.D. Benny, sapaan akrabnya, melihat pentingya peran sungai dalam berkembangnya sebuah peradaban. “Kalau kita berkaca pada sejarah, maka semua bangsa besar selalu tumbuh dan berkembang di sekitar sungai. Sumeria, Mesopotamia, Mesir, Sriwijaya itu berada di sekitar sungai,” ujarnya.

Namun demikian, Benny melihat bahwa hubungan masyarakat dengan sungai mengalami perubahan. “Sungai yang dahulu dipandang sebagai sumber penghidupan dalam perkembangan kota justru kerap ditempatkan sebagai ‘ruang belakang’ yang menjadi tempat pembuangan berbagai limbah,” katanya.

Lebih lanjut, perubahan cara pandang ini menurut Benny menjadi salah satu persoalan yang perlu diperhatikan dalam upaya penataan sungai. Menurutnya, masyarakat perlu melihat kembali pentingnya peran sungai dalam ekosistem, kehidupan sosial, dan sejarah perkembangan kota.

Sejalan dengan itu, forum ini dinilai sebagai upaya dalam memulihkan kembali hubungan masyarakat dengan lingkungan. Sehingga, nilai sejarah yang melekat pada kawasan sungai tetap terjaga. “Harapan kami adalah pembangunan berkelanjutan akan berjalan terus. Bukan menghapus masa lalu, tetapi juga membangun masa depan. Kita menjaga sejarah bukan hanya untuk mengenang masa lalu, tetapi juga untuk memberikan arah bagi masa depan,” jelasnya.

Picture of Humas

Humas