
Program Studi Akuntansi Soegijapranata Catholic University (SCU) menghadirkan praktisi dalam Kuliah Umum “Digital Financial Literacy for Future Accountant” di Teater Thomas Aquinas, Kampus 1 SCU Bendan, Rabu (2/9). Forum ini pun mempertemukan mahasiswa dengan praktisi di bidang asuransi, Wie Wie, S.Kom., RHP., CHT.
Membangun Karakter di Tengah Perkembangan Teknologi
Di tengah perkembangannya yang semakin cepat, Wie Wie mengajak mahasiswa untuk melihat teknologi sebagai alat bantu. Maka dari itu, ia menekankan pentingnya pola pikir dan karakter sebagai dasar setiap memanfaatkan teknologi. “Teknologi itu sebagai tools, bukan sesuatu yang mengendalikan kita sebagai manusia. Maka penting adanya karakter,” ungkapnya.
Sebaliknya, adanya perkembangan teknologi menurut Wie Wie semestinya dapat mendorong mahasiswa untuk memperluas perspektifnya dalam menghadapi tantangan dunia profesional. “Jadi teman-teman harusnya punya pola pikir yang kuat dulu. Makanya perlu ada prosperity conscious sebagai kesadaran untuk membangun pondasi dalam mempersiapkan masa depan,” tekannya.
Mendekatkan Mahasiswa dengan Dunia Kerja
Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) SCU, Dr. Monika Palupi Murniati, S.E., M.M. menjelaskan forum ini bertujuan agar mahasiswa dapat memperoleh wawasan yang lebih dekat dengan dunia profesional. Menurutnya, pengalaman ini dapat melengkapi teori yang diajarkan di bangku kuliah.
Terlebih lagi dengan adanya pergeseran peluang kerja akibat hadirnya kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). “Harapannya bisa membantu mahasiswa menentukan arah pengembangan diri dan mempersiapkan mereka di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat,” tutur Dr. Monika.
Lebih lanjut, profil lulusan Program Studi Akuntansi SCU salah satunya menyasar akuntan. Dr. Monika pun melihat relevansi topik yang diangkat untuk memahami perubahan cara kerja profesi tersebut. “Adanya AI telah mengubah berbagai aktivitas pekerjaan akuntan. Sejumlah pekerjaan yang bersifat administratif dan transaksional mulai beralih ke sistem otomatis,” terangnya.
Menurutnya, hal tersebut mendorong mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan yang lebih strategis. Mereka perlu memahami risiko yang muncul dari penggunaan teknologi dalam dunia bisnis.
“Perkembangan teknologi harus diimbangi dengan peningkatan literasi. Kemudahan transaksi digital dapat membawa risiko apabila tidak disertai pemahaman dan pertimbangan yang matang,” tegas Dr. Monika.








