
Dalam rangka merayakan Dies Natalis ke-24 Program Studi Teknik Informatika (TI) Soegijapranata Catholic University, Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika (HMTI) SCU menyelenggarakan Noodle Party 2026 pada di Gedung Henricus Constant, Kampus 1 SCU Bendan, Jumat (28/8). Mengusung tema “Stir Your Creativity, Taste the Fun,” kegiatan ini mengajak dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa TI SCU untuk mengolah mie secara kreatif.
“Jadi teman-teman akan memasak mie. Kalau di tradisi Chinese, mie itu diibaratkan sebagai umur yang panjang,” jelas Ketua Program Studi TI SCU, Yonathan Purbo Santosa, S.Kom. M.Sc.
Rangakaian Dies Natalis
Namun demikian, Yonathan menambahkan bahwa Noodle Party membawa konsep memasak mie yang berbeda pada umumnya. Kompetisi ini menantang para peserta untuk terlebih dahulu menyusun flowchart sebagai panduan dalam mengolah mie. “Masaknya tidak cuma masak, tetapi mereka harus membuat flowchart step by step seperti algoritma dan harus diikuti oleh mereka sendiri,” jelas Yonathan.
Sebelum mulai memasak, peserta terlebih dahulu menyusun alur atau tahapan pembuatan hidangan secara sistem dalam bentuk bentuk flowchart. Setelah itu, seluruh proses memasak harus dilakukan sesuai dengan rancangan yang telah dibuat.
Bagian menariknya menurut Yonathan adalah peserta tidak diperbolehkan mengubah flowchart ketika proses memasak sudah dimulai. Dengan demikian, kesalahan dalam penyusunan langkah atau algoritma dapat berpengaruh langsung terhadap hasil masakan.
Berpikir Kritis dan Logis
Maka dari itu, peserta perlu memastikan setiap langkah yang disusun telah dipikirkan secara tepat sebelum diterapkan. “Mereka bikin dulu flowchart-nya, dulu baru nanti dilaksanakan. Kalau waktu bikin yang ini salah, masaknya salah, ya jadinya salah,” kata Yonathan.
Konsep tersebut, lanjut Yonathan, juga dapat melatih kemampuan berpikir kritis dan logis yang relevan dengan proses akademik mahasiswa. “Itu mungkin juga melatih kemampuan berpikir kritis dan logis. Karena skripsi itu kan butuhnya kayak gitu,” ungkapnya.
Dalam proses tersebut, mahasiswa perlu menemukan dan mengidentifikasi masalah; menentukan metode; menyusun tahapan, hingga; menghadapi berbagai persoalan yang mungkin muncul ketika metode mulai diterapkan.
“Proposal skripsi itu ya cari masalahnya dulu, bikin metode, ‘saya mau begini.’ Nah, begitu sudah implementasi biasanya mereka ketemu masalah. ‘Oh, ternyata metode saya salah kemarin.’ Tapi kalau skripsi bisa direvisi,” jelas Yonathan. Sementara dalam Noodle Party, peserta perlu menerima konsekuensi dari rancangan yang telah dibuat sejak awal. “Kalau ini tidak bisa, ya tidak bisa,” tutup Yonathan.








