Diskusi bersama Penulis Buku “Telanjang Kaki,” Perpustakaan SCU Hadirkan Ruang Literasi untuk Tumbuhkan Minat Baca Mahasiswa 

Diskusi bersama Penulis Buku “Telanjang Kaki,” Perpustakaan SCU Hadirkan Ruang Literasi untuk Tumbuhkan Minat Baca Mahasiswa 

Hampir 100 mahasiswa Soegijapranata Catholic University (SCU) antusias berdiskusi bersama Je Radite, penulis Buku “Telanjang Kaki: Poor Privilege Life from a Poverty Graduate.” Je hadir di tengah mahasiswa dalam Talkshow dan Bedah Buku yang diselenggarakan UPT Perpustakaan SCU bersama Buzzlife di Mini Teater Albertus, Kampus 1 SCU Bendan pada Rabu (29/4).

Merefleksikan Pengalaman Hidup dalam Keterbatasan

Buku yang terbit pada 2026 ini merupakan memoar reflektif yang menggabungkan kritik sosial dan pengembangan diri (self-improvement) melalui poverty privilege, cara pandang bahwa pengalaman hidup dalam keterbatasan dapat membentuk ketahanan sekaligus mempengaruhi perspektif seseorang.  Namun demikian, Je mengungkap awalnya buku yang ia tulis merupakan kritik sosial, kemudian berkembang menjadi memoar yang menggabungkan refleksi pribadi dengan isu sosial.

Merefleksikan hal tersebut bersama mahasiswa menurut Je merupakan pengalaman yang berkesan baginya. Ia pun turut mengapresiasi partisipasi dan keterlibatan aktif mahasiswa dalam diskusi tersebut. “Beberapa peserta terlihat sangat terhubung dengan isi buku, bahkan ada yang menahan tangis. Buat saya, itu pengalaman yang sangat berarti,” katanya.

Selain membagikan isi dan proses kreatif di balik penulisan, Je berkesempatan menceritakan secara singkat sinopsis bukunya untuk nantinya akan digunakan dalam Augmented Reality (AR). Inovasi buatan UPT Perpustakaan SCU ini memungkinkan pembaca dapat mengakses konten sinopsis secara interaktif. “Saya belum pernah melihat buku dengan AR seperti ini. Ini membuka perspektif baru tentang bagaimana teknologi bisa digunakan dalam literasi,” ujarnya.

Menghidupkan Literasi

Kepala UPT Perpustakaan SCU, Melanie Adirati, S.Hum, M.A menilai kerja sama dengan Buzzlife dalam forum ini penting untuk menghadirkan ruang literasi di tengah mahasiswa. “Kami ingin perpustakaan menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menumbuhkan literasi. Bedah buku dapat menunjukkan bahwa membaca masih relevan dan bermanfaat, terutama untuk pengembangan diri,” ujarnya.

Ia pun melihat peluang kerja sama melalui kegiatan serupa dengan menghadirkan penulis-penulis buku lain. Menurutnya, bedah buku menjadi forum yang relevan untuk meningkatkan minat baca mahasiswa, khususnya di tengah tantangan konten visual digital. “Semoga kegiatan seperti ini bisa memotivasi mahasiswa untuk kembali dekat dengan buku, khususnya buku-buku reflektif yang relevan dengan kehidupan mereka,” pungkas Melanie.

Picture of Humas

Humas