Soegijapranata Catholic University (SCU) kembali memperkuat komitmennya dalam pengembangan kualitas pembelajaran melalui penyelenggaraan “Joyful Soegijapranata Learning Model Coaching Clinic” (SCC) oleh Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Pendidikan (LP3) di Smart Classroom, Gedung Justinus, Kampus 1 SCU Bendan, Senin (27/4).
Forum ini merupakan upaya perguruan tinggi dalam meningkatkan pemahaman terkait pembelajaran berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS) di kalangan para dosen, khususnya para pengelola program studi dan fakultas. Hal ini pun sejalan dengan tema kegiatan, “SLM for HOTS: Insights from Critical Thinking Week.”
Kepala LP3 SCU, Prof. Dr. Heny Hartono, SS, MPd menilai pentingnya kegiatan ini untuk merespons hadirnya kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang turut memberikan dampak pada dunia pendidikan. Menurutnya, adanya AI membuat kemampuan peserta didik, dalam hal ini mahasiswa, hanya terbatas pada penguasaan pengetahuan saja.
“Perguruan tinggi perlu memastikan bahwa mahasiswa tidak hanya bisa menerima pembelajaran saja, melainkan juga mampu mengolah, merefleksikan, dan mengaplikasikannya dalam konteks tertentu. Maka dari itu, fokus pendidikan saat ini bukan hanya penguasaan pengetahuan, melainkan juga pada pengembangan kemampuan berpikir tingkat tinggi seperti kritis, reflektif, analitis, dan kreatif,” katanya di sela-sela kegiatan.
Sejalan dengan itu, kampusnya telah menerapkan Soegijapranata Learning Model (SLM). Metode pembelajaran khas SCU ini menurut keterangan Prof. Heny menghadirkan pembelajaran yang kontekstual, relevan, dan autentik. Lebih lanjut, Prof. Heny menambahkan bahwa model pembelajaran ini menempatkan mahasiswa sebagai subjek aktif yang terlibat secara penuh dalam proses belajar, sehingga mampu berkembang menjadi pembelajar yang reflektif dan transformatif.
Salah satu implementasi dari pendekatan tersebut adalah Critical Thinking Week yang telah diaplikasikan Faculty of Language and Arts (FLA). “Kami memberikan waktu seminggu untuk mahasiswa baru mengasah kemampuan berpikir kritisnya di awal perkuliahan,” terang Dekan FLA SCU, G.M. Adhyanggo, SS, MA, PhD. Praktik ini kemudian diangkat dalam Joyful SCC sebagai praktik baik yang dapat direplikasi dan dikembangkan di berbagai program studi. Diskusi praktik ini juga diikuti dengan diskusi interaktif tentang pengalaman implementasi HOTS.
Melalui forum ini, Prof. Heny berharap terbangun kesamaan pemahaman dan komitmen bersama di kalangan dosen dalam mengembangkan pembelajaran yang berorientasi pada HOTS. Ia menekankan bahwa pembelajaran yang baik tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga pada kemampuan mahasiswa dalam berpikir kritis dan reflektif.
“Melalui SLM berbasis HOTS, kita ingin mempersiapkan mahasiswa menjadi individu yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu berpikir kritis, reflektif, dan relevan dengan tantangan zaman,” tutupnya.









