Program Studi Rekayasa Infrastruktur dan Lingkungan (RIL), Fakultas Ilmu dan Teknologi Lingkungan (FITL), Soegijapranata Catholic University (SCU) memberikan Training of Trainers (ToT) kepada para tenaga pengajar Pondok Pesantren Roudhotus Solihin dan SD Negeri Loireng. Berlangsung di Resto Rujak Gobyos, Kota Lama Semarang pada Sabtu (25/4), ToT bertajuk “Implementasi Kurikulum Model Pembelajaran Berjenjang Aksi Iklim Sekolah” ini bertujuan untuk mempersiapkan para tenaga pelajar di kedua lembaga pendidikan dalam mengaplikasikan modul ajar perubahan iklim.
Modul tersebut sebelumnya telah dibuat Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) SCU bekerja sama dengan Lembaga Pendamping Buruh Tani dan Nelayan (LPUBTN) Keuskupan Agung Semarang (KAS), The Samdhana Institute, Jesuit Refugee Service (JRS) Indonesia melalui program PkM “Climate Awareness and Resilience: Capacity Building for Pesantren.” Modul berikut kurikulum pembelajaran dibuat secara berjenjang dari PAUD/TK, SD, SMP, hingga SMA. Mulai dari literasi iklim, kesadaran lingkungan, serta aksi nyata telah diintegrasikan dalam proses pembelajaran di sekolah.
Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Non-Akademik FITL SCU, Amrizarois Ismail, SPd, MLing menjelaskan bahwa kedua lembaga pendidikan menjadi mitra pihaknya dalam mengimplementasikan pendidikan perubahan iklim berbasis sekolah. Ia pun menilai jalur pendidikan menjadi pendekatan yang penting dalam menjawab tantangan perubahan iklim.
“Peran para guru (tenaga pengajar) penting sebagai fasilitator agar modul tersebut mampu diaplikasikan secara efektif, kontekstual, dan partisipatif di kelas. Jadi bukan hanya menyampaikan materi, para guru juga harus menghadirkan aktivitas nyata yang relevan dengan kondisi lingkungan peserta didik,” terangnya.
Materi diberikan oleh Amrizarois bersama dua dosen RIL SCU B. Y. Arya Watunimpuna, S.T, M.Ars dan Bening Laksa Intan, S.T, M.T. Materi tersebut mencakup konsep Eco Happiness yang menekankan keterkaitan kualitas lingkungan dan kebahagiaan manusia berikut dampak perubahan iklim dalam kehidupan sehari-hari; struktur, pendekatan, dan strategi penggunaan modul pada setiap jenjang pendidikan, serta; gambaran praktik pembelajaran sesuai tahap perkembangan peserta didik. Selain itu, workshop penyusunan rencana dan desain pembelajaran juga berikan agar sesuai dengan konteks masing-masing sekolah.
Selepas ToT, rangkaian kegiatan rencana akan dilanjutkan dengan praktik di Loireng, Sayung, Demak. Lokasi ini pun dipilih karena rentan terhadap dampak perubahan iklim, sehingga pembelajaran dapat langsung dikaitkan dengan kondisi lingkungan sekitar.
“Kami ingin mendorong sekolah sebagai pusat perubahan sosial, yang mampu melahirkan generasi sadar iklim, adaptif, dan berkontribusi dalam menghadapi tantangan lingkungan di masa depan,” harap Amrizarois.









