Workshop Penelitian Interdisipliner Persiapkan Dosen SCU Jawab Tantangan Keberlanjutan Lingkungan di Pesisir Pantai Utara Jateng

Sebanyak 15 dosen Soegijapranata Catholic University (SCU) dipersiapkan untuk melakukan penelitian interdisipliner guna menjawab tantangan keberlanjutan lingkungan di wilayah pesisir. Mereka mengikuti Workshop “Penelitian Interdisipliner untuk Keberlanjutan Lingkungan Pesisir” yang diselenggarakan di Gedung Fransiskus Assisi, Kampus 2 SCU BSB pada Selasa (8/9) dan Gedung Mikael, Kampus 1 SCU Bendan pada Rabu (9/9).

Forum ini merupakan rangkaian program peningkatan kapasitas dosen yang didukung United Board of Christian Higher Education in Asia atau United Board (UB), Strengthening Faculty Capacity through Interdisciplinary Tri Dharma for Coastal Sustainability (SCI-Tides). Program ini akan berlangsung selama kurang lebih 1,5 tahun hingga Desember 2027.

Workshop Penelitian

Workshop menghadirkan Dosen Fakultas Hukum dan Komunikasi (FHK) serta Fakultas Ilmu dan Teknologi Lingkungan (FITL) SCU, Dr. Hotmauli Sidabalok, S.H., C.N., M.H. Para dosen diajak memahami sekaligus menyamakan persepsi mereka tentang fokus dan lokus berikut menyusun proposal penelitian interdisipliner.

Sudut pandang mereka turut diperkaya dengan diskusi bersama Bambang Setiawan, Abdullah Achmad Marzuki, dan Sholeh. Ketiganya masing-masing merupakan perwakilan dari 3 wilayah pesisir di Pantai Utara Jateng yang akan menjadi lokasi penelitian: Tugu; Tambakrejo, dan; Bedono. Kehadiran masyarakat menurut Ketua Program SCI-Tides, Dr. R. Probo Y. Nugrahedi, S.TP., M.Sc. dapat memberikan gambaran awal kondisi berikut tantangan yang dihadapi.

Ia pun mencontohkan sejumlah tantangan yang berkaitan dengan kondisi lingkungan, di antaranya penurunan tanah, kenaikan permukaan air laut, hingga dampak perubahan iklim. “Bukan hanya lingkungan, permasalahannya lebih kompleks karena kehidupan masyarakat pesisir dihadapkan dengan persoalan yang menyangkut sosial hingga ekonomi serta berkaitan dengan kepentingan dan kebijakan pembangunan,” jelasnya.

Menjawab Tantangan

Lebih lanjut, hal ini pun sejalan dengan pentingnya penelitian interdisipliner dalam menjawab tantangan tersebut. Kompleksitas tersebut menurut Dr. Probo membuat jawaban atas tantangan keberlanjutan lingkungan pesisir harus diselesaikan berdasarkan perspektif keilmuan yang beragam. “Kami mencoba sedikit demi sedikit untuk menggali ceruk mana yang memungkinkan kita selesaikan secara bersama-sama,” lanjutnya.

Workshop mengarahkan para dosen untuk menyamakan sudut pandang antar berbagai latar belakang keilmuan. Kesamaan tersebut kemudian akan menjadi dasar dalam merumuskan permasalahan penelitian yang akan dikembangkan lebih lanjut agar sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Setelah itu, para dosen akan mulai melakukan observasi untuk mengetahui kondisi secara langsung di lapangan.

Proses penelitian akan berjalan selama sekitar 1 semester dengan target penyelesaian pada Maret 2027. Selain manuskrip, adapun luaran penelitian akan menghasilkan modul service learning yang dapat melibatkan mahasiswa dalam pembelajaran langsung bersama masyarakat di 3 wilayah pesisir.

Picture of Humas

Humas