

Soegijapranata Catholic University (SCU) menjadi tuan rumah Pelatihan Kepemimpinan Mahasiswa Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik (APTIK) Regio Barat yang diselenggarakan pada 22–24 Juni 2026 di Wisma Nazaret, Semarang. Kegiatan yang mengusung tema “Mengembangkan Mahasiswa APTIK sebagai Agen Perubahan Transformatif” ini diikuti oleh 52 mahasiswa dari 13 perguruan tinggi anggota APTIK Regio Barat.
Wakil Rektor Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Alumni SCU, Prof. Dr. Berta Bekti Retnawati, S.E, M.Si menjelaskan bahwa pelatihan kepemimpinan mahasiswa merupakan program rutin APTIK yang telah berlangsung selama beberapa tahun terakhir dan dilaksanakan secara bergilir di setiap regio. Pada tahun ini, SCU dipercaya menjadi tuan rumah penyelenggaraan bagi perguruan tinggi APTIK Regio Barat.
Menurutnya, pelatihan tersebut hadir sebagai respons terhadap tantangan yang dihadapi generasi muda, khususnya mahasiswa, di tengah dinamika sosial, ekonomi, dan politik yang semakin kompleks. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi wadah untuk mendorong kembali semangat mahasiswa agar berani mengambil peran sebagai pemimpin dan aktivis organisasi di lingkungan kampus.
“Mahasiswa adalah calon intelektual muda yang akan menentukan masa depan bangsa. Mereka perlu memiliki karakter personal yang kuat, kepekaan terhadap persoalan sosial, sekaligus keberanian untuk menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing,” ujarnya.
Adapun pelatihan difokuskan pada penguatan karakter personal melalui sesi refleksi diri, pengenalan potensi, serta pembentukan kepemimpinan yang berawal dari kemampuan memimpin diri sendiri. Bersamaan dengan itu, mahasiswa juga ikut diterjunkan ke masyarakat untuk melakukan observasi, berdialog dengan warga dan tokoh masyarakat, serta mengidentifikasi berbagai persoalan sosial untuk kemudian merefleksikan hasil temuannya.
Prof. Berta menilai pentingnya pengalaman ini dalam mendukung proses pembelajaran. Mahasiswa tidak hanya mengamati, melainkan juga mendengarkan pengalaman masyarakat untuk menggagas solusi yang dapat ditindaklanjuti di lingkungan masing-masing. “Harapannya mereka memiliki kepekaan sosial, mampu melihat persoalan secara langsung, kemudian mempunyai inisiatif untuk melakukan perubahan ketika kembali ke kampus maupun masyarakat,” jelas Prof. berta.
Bagi kampusnya, pelatihan ini sekaligus menjadi kesempatan untuk berbagi praktik baik dengan sesama perguruan tinggi APTIK. Menurut keterangannya, selama ini SCU telah memiliki berbagai program pengembangan kepemimpinan mahasiswa, seperti Latihan Kepemimpinan Tingkat Dasar (LKTD), Latihan Kepemimpinan Tingkat Lanjut (LKTL), serta berbagai program pembinaan kemahasiswaan lainnya. Melalui forum APTIK, mahasiswa juga memperoleh kesempatan untuk saling belajar, bertukar pengalaman, dan memahami dinamika yang dihadapi kampus lain.
Selain kompetensi akademika, Prof. Berta menilai mahasiswa juga perlu memiliki empati sosial, keberanian mengambil inisiatif, serta kemampuan menggerakkan orang lain untuk menciptakan perubahan positif. “Kami berharap ketika kembali ke kampus masing-masing, mereka benar-benar menjadi agen perubahan transformatif, mampu menggerakkan teman-temannya, membangun kepedulian sosial, dan menghadirkan program-program yang bermanfaat bagi kampus maupun masyarakat,” pungkasnya.









