
Promovenda Program Studi Doktor Ilmu Lingkungan (PDIL) Soegijapranata Catholic University (SCU), Hj. Ida Rahayu Widowati, S.T., M.T., M.PWK memperkenalkan Model Maladaptif Spasial Kuantitatif (MMSK) sebagai pendekatan baru dalam memetakan kerentanan kawasan pesisir bersejarah yang terdampak rob. Model tersebut dipaparkan dalam Ujian Terbuka Promosi Doktor yang diselenggarakan PDIL SCU di Teater Thomas Aquinas, Kampus 1 SCU Bendan, Selasa (21/7).
Melalui disertasi berjudul “Model Maladaptif Spasial Kuantitatif sebagai Pendekatan Strategis Pengembangan Kawasan Pesisir Bersejarah (Studi Kasus Kampung Melayu Semarang),” Ida mengangkat persoalan rob yang terus mengancam Kampung Melayu Semarang sebagai salah satu kawasan pesisir bersejarah. Menurutnya, penanganan yang selama ini dilakukan masih bersifat parsial, seperti pembangunan tanggul, pompa, maupun relokasi, sementara belum tersedia instrumen yang mampu memprediksi tingkat kerentanan kawasan secara spasial. “Dari kegelisahan itulah saya mengembangkan Model MMSK. Sederhananya, MMSK merupakan model mitigasi spasial untuk kawasan pesisir bersejarah,” ujar Ida.
Kebaruan penelitian ini terletak pada dimasukkannya variabel Patologis Historis (PH) ke dalam model kuantitatif. Selama ini, aspek historis cenderung dipandang sebagai faktor kualitatif sehingga belum banyak digunakan dalam perencanaan kawasan. Padahal, hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel PH menjadi faktor paling dominan dalam menentukan tingkat kerentanan kawasan dengan bobot mencapai 40%.
Penelitian tersebut menggunakan analisis Geographically Weighted Regression (GWR) terhadap 300 titik pengamatan di Kampung Melayu. Hasilnya mengidentifikasi 3 faktor utama yang mempengaruhi kerusakan spasial kawasan, yakni PH, Intensitas Tertutup dan Termal (IT), serta Degradasi Ekologis (DE). Ketiga variabel tersebut kemudian dirumuskan dalam Model MMSK dengan komposisi bobot 40% untuk PH, 35%untuk IT, dan 25% untuk DE.
Melalui model tersebut, Ida berhasil menghasilkan peta tingkat kerentanan kawasan dengan tingkat akurasi mencapai 82%. Hasil pemetaan ini memungkinkan pemerintah mengidentifikasi wilayah atau gang yang memiliki tingkat kerentanan tertinggi sehingga penanganan dapat dilakukan secara lebih tepat sasaran dan berbasis data. “Melalui model ini pemerintah bisa mengetahui gang atau wilayah mana yang memiliki tingkat kerentanan paling tinggi sehingga penanganannya dapat diprioritaskan berdasarkan data,” jelasnya.
Selain menghasilkan model kuantitatif yang terukur, penelitian ini juga menawarkan 4 rekomendasi kebijakan, yaitu peningkatan Koefisien Dasar Hijau (KDH) hingga 40%, restorasi morfologi gang, normalisasi saluran yang dipadukan dengan pembangunan biopori, serta penguatan partisipasi masyarakat dalam upaya adaptasi terhadap rob. Model MMSK juga dirancang agar dapat diterapkan di berbagai kawasan pesisir bersejarah lain di Indonesia dengan menyesuaikan data wilayah setempat.
Ida berharap hasil penelitiannya dapat menjadi salah satu rujukan bagi pemerintah daerah dalam menyusun kebijakan adaptasi rob yang lebih komprehensif. Menurutnya, kawasan pesisir bersejarah merupakan memori kota yang perlu dilestarikan melalui kebijakan yang tidak hanya berorientasi pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga didukung oleh pemetaan kerentanan berbasis data ilmiah. “Kawasan pesisir bersejarah adalah memori kota, bukan sekadar kumpulan bangunan tua. Dengan Model MMSK, kita memiliki alat ukur yang lebih presisi untuk menyelamatkannya dari ancaman rob,” pungkasnya.









