
Tim mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian (FTP), Soegijapranata Catholic University (SCU) menjadi 1 dari 6 finalis dalam Developing Solutions for Developing Countries (DSDC) Product Development Competition 2026. Kompetisi pengembangan produk pangan bergengsi tingkat dunia ini diselenggarakan Institute of Food Technologists (IFT), lembaga profesi internasional bergengsi di bidang ilmu dan teknologi pangan yang berbasis di Amerika Serikat, melalui IFT Student Association (IFTSA).
Tim tersebut beranggotakan 5 mahasiswa Program Studi Teknologi Pangan, yaitu Caroline Amaris, Karyn Garcia Hartono, Michael Natanael Setiawan, Jonathan Halim Sugianto, dan Karla Katina. Jonathan dan Michael berkesempatan mewakili timnya untuk memaparkan risetnya pada babak final yang berlangsung dalam rangkaian IFT Food Improved by Research, Science, and Technology (FIRST) di McCormick Place Convention Center, Chicago, Amerika Serikat pada 12-15 Juli 2026. Sebelumnya, kelima mahasiswa telah berhasil bersaing dengan lebih dari 30 tim mahasiswa dari berbagai negara sejak dimulainya kompetisi pada 1 Februari 2026.
“Hanya 6 tim terbaik yang diundang ke Chicago untuk mempresentasikan hasil risetnya secara langsung. Mereka mendapatkan kesempatan untuk memperluas jejaring dengan ribuan praktisi dan peneliti dari perusahaan pangan dunia yang hadir dalam ajang tersebut, termasuk Cargill, PepsiCo, dan berbagai perusahaan global lainnya,” kata Dekan FTP SCU, Dr. Inneke Hantoro, S.T.P., M.Sc.
Jonathan menjelaskan timnya telah mengembangkan bihun beras bernutrisi dengan memanfaatkan bekatul dan ampas tahu, dua produk sampingan industri pangan yang selama ini menurutnya belum dimanfaatkan secara optimal. Lebih lanjut, Jonathan menambahkan bahwa kedua bahan tersebut sebenarnya memiliki kandungan gizi yang tinggi. Namun demikian, pemanfaatannya masih terhambat oleh faktor antinutrisi, rendahnya ketercernaan, serta tingginya kandungan serat tidak larut. Di sisi lain, Indonesia masih menghadapi persoalan kekurangan gizi dan stunting yang sepenuhnya belum teratasi.
“Berangkat dari sana, kami membuat bihun beras yang diperkaya nutrisi melalui fermentasi bekatul dan ampas tahu menggunakan ragi tempe. Proses ini memungkinkan kedua by-product tersebut diubah menjadi sumber protein dan serat pangan yang jauh lebih tinggi dibandingkan bihun pada umumnya,” jelas Jonathan.
Selain pada peningkatan nilai gizinya, produk garapan Jonathan dan timnya ini juga mempunyai cita rasa dan tekstur yang tetap familiar bagi lidah masyarakat Indonesia. “Jadi tidak perlu mengubah kebiasaan makan untuk mendapatkan manfaat gizinya. Satu porsi saja sudah mampu memenuhi hampir 90% kebutuhan serat harian dan lebih dari separuh kebutuhan protein orang dewasa,” tambah Jonathan.
Kelebihan lain yang ditawarkan produk bernama “INVERCI” ini adalah harganya yang lebih terjangkau dibandingkan bihun pada umumnya yang tersebar di pasaran. Pemanfaatan bahan baku pun turut mendukung penerapan ekonomi sirkular dengan mengurangi limbah industri pangan sekaligus menekan emisi gas rumah kaca.









