
Soegijapranata Catholic University (SCU) menarik kembali 191 mahasiswa beserta 6 Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) yang telah menyelesaikan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Terhitung sejak Jumat (31/7), mereka telah mengikuti KKN selama kurang lebih 3 minggu di 15 desa/kelurahan di wilayah Paroki St. Stanislaus Girisonta; Paroki St. Yusup Ambarawa, serta; Paroki St. Thomas Rasul Bedono. Adapun proses penarikan dilakukan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) SCU di ketiga paroki yang terletak di Kab. Semarang tersebut secara bersamaan pada Kamis (20/8).
Hidupkan Kegiatan Keagamaan
Salah satu mahasiswa, Florecita Safira Febriyanto bersama kelompoknya mengajak masyarakat menghidupkan masjid melalui kegiatan Fajar Kampung-Kampus (Fajar Kampus atau Fajar Kamso). “Kami mengajak masyarakat untuk menunaikan salat Magrib berjamaah sebanyak 5 kali. Kemudian, kami juga mengadakan pengajian awal tahun baru,” ceritanya.
Kegiatan ini sekaligus bertujuan sebagai jembatan interaksi sosial untuk mempererat tali silaturahmi antara mahasiswa dan masyarakat setempat. Sejalan dengan itu, Florecita dan kelompoknya pun berupaya membangun kedekatan dengan masyarakat di luar program pemberdayaan masyarakat yang mereka gagas.
Terapi Seni Kaligrafi untuk Pendampingan Kesehatan Mental
Sebagai program kerja individu, Florecita menyasar anak-anak untuk melakukan terapi seni atau art therapy melalui seni kaligrafi. “Kelompok kami memang banyak menyasar anak-anak untuk edukasi, salah satunya menyelenggarakan lomba kaligrafi,” katanya.
Lebih lanjut, lomba ini menurut keterangan Florecita melibatkan hampir 20 anak-anak dari kelompok belajar. Baginya, kompetisi tersebut menjadi ruang untuk mengajak anak-anak belajar sekaligus mengekspresikan kreativitas melalui karya seni.
Belajar dari Masyarakat
Bagi Florecita, pengalaman mengikuti KKN mengembangkan kemampuan dalam beradaptasi. KKN menurutnya memberikan kesan yang berbeda dengan apa yang ia bayangkan sebelum terjun langsung ke masyarakat.
“Mungkin awalnya kalau dengar kata KKN itu pasti kayak gelisah, takut nggak nyaman sama di desa atau di mana. Tapi ternyata KKN di sini seru banget dan warganya juga asyik-asyik/ Semua lingkungannya baik, dari tuan rumahnya, teman-temannya itu juga,” kesannya.
Sejalan dengan itu, Kepala Pusat Pemberdayaan dan Pengembangan Masyarakat (P3M) SCU, Rudy Elyadi, S.E., M.M. menilai pentingnya KKN untuk memperluas sudut pandang mahasiswa melalui dinamika bersama masyarakat.
“Ilmu yang teman-teman berikan kepada masyarakat sangat kecil, Maka bangun toleransi, bangun solidaritas, kasih sayang, dan sebagainya. Karena hal ini yang tidak pernah kita dapatkan di kota,”ujarnya.









