
Sembilan dosen baru Soegijapranata Catholic University (SCU) antusias mengikuti Teaching Capacity Building (TCB) yang diselenggarakan Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Pendidikan (LP3) SCU. Berlangsung di Smart Classroom, Gedung Justinus, Kampus 1 SCU Bendan pada 6–8 Agustus 2026, mereka dipersiapkan untuk menjalankan peran sebagai pendidik di lingkungan perguruan tinggi.
Whole Person Education
Prof. Heny mengajak para dosen baru merefleksikan tantangan pembelajaran yang sebelumnya pernah atau kerap mereka temui di kelas. Refleksi tersebut mengantarkan pemahaman bahwa mahasiswa datang dari berbagai latar belakang. Beragamnya latar belakang ini menurut Prof. Heny mendorong kebutuhan akan pendekatan pendidikan yang dapat membantu mahasiswa berkembang secara utuh.

Hal ini pun menjadi latar belakang dari fokus TCB tahun ini, yakni Whole Person Education (WPE). ”Tujuan WPE adalah untuk mengembangkan potensi seseorang secara utuh. Fokusnya bukan hanya pada kecerdasan, melainkan juga sosial, emosional, moral, etika, dan spiritual,” kata Prof. Heny.
Maka dari itu, ia juga menilai pentingnya peran dosen dalam mendampingi proses mahasiswa berkembang secara utuh. “Kami juga memberikan pelatihan tentang konseling dan cara membangun relasi interpersonal. Dosen akan menemani dan mengembangkan mahasiswa, makanya mereka membutuhkan keterampilan tersebut,” tuturnya.
Soegijapranata Learning Model
WPE sendiri menurut keterangan Prof. Heny sebenarnya sejalan dengan metode pembelajaran khas SCU, Soegijapranata Learning Model (SLM). SLM mengarahkan pembelajaran agar berpusat pada mahasiswa, sehingga mereka tidak hanya belajar secara pasif. Dosen didorong untuk mempersiapkan pembelajaran yang memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengalami, beraktivitas, berdiskusi, dan mempertanggungjawabkan proses belajarnya. “Spotlight-nya tidak lagi ke dosen, tetapi justru ke mahasiswa. Mengurangi teacher talking time bukan berarti dosen tidak bekerja, tetapi dosen menyiapkan skenario pembelajaran supaya mahasiswa benar-benar belajar,” tuturnya.
Pendekatan tersebut juga menurut berkaitan dengan pembelajaran orang dewasa (adult learning atau andragogy). Mahasiswa perlu dilatih menjadi pembelajar yang bertanggung jawab terhadap proses belajarnya sendiri. Karena itu, mahasiswa tidak hanya dituntut menghasilkan suatu karya, tetapi juga mampu mempertanggungjawabkan pilihan dan argumentasi di balik karya tersebut.
Proses mempertanggungjawabkan hasil belajar ini menurut Prof. Heny sekaligus membuka ruang bagi mahasiswa untuk belajar dari kesalahan. Ruang ini diperlukan agar mahasiswa memperoleh pengalaman dan membangun pengetahuan baru.
“Kalau mereka mempertanggungjawabkan, kemudian kita berikan pertanyaan-pertanyaan kritis, mereka mempunyai ruang untuk mempertahankan apa yang dibuat. Kalau ternyata ada kesalahan, itu menjadi proses. Dari kesalahan itu dia belajar, dari pengalaman belajar itu kemudian menjadi new knowledge bagi dia,” jelas Prof Heny.
Teaching Capacity Building
Selain pembekalan insentif selama 3 hari, para dosen juga mendapatkan mentoring selama 1 tahun oleh LP3 SCU bekerja sama dengan setiap fakultas. “Fakultas akan memilihkan mentor yang serumpun. LP3 juga akan me-record datanya untuk melihat progres para dosen baru,” terang Prof. Heny.









