
Tim Mahasiswa Soegijapranata Catholic University (SCU) berhasil menciptakan kukis berbahan dasar tepung umbi garut dan tepung tulang ikan gabus sebagai upaya pencegahan stunting. Makanan yang memanfaatkan bahan pangan lokal ini turut dipadukan dengan E-Gabusta, mesin otomatis pengukur gizi balita.
Tim beranggotakan: Vanessa Joyfully Mardeko, Oei Ivena Evelyn Surya Hartono, dan Raymond Adidaya Santoso dari Fakultas Teknologi Pertanian (FTP); Dimas Rizky Fajar Pamungkas dari Fakultas Ilmu Komputer (FIKOM); Gregorius Alvin Yoga Pratama dari Fakultas Teknik (FT).
Karya ini berhasil membawa mereka meraih Juara 2 National Essay Competition IDEAFEST 2026 di Kota Bogor pada 6-7 Juni 2026. Kompetisi yang diikuti mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi tersebut diselenggarakan Sentosa Foundation; Bogor Science Club; IPB. Terkhusus pada lomba esai bidang pangan, kompetisi mengajak mahasiswa menggagas inovasi berkaitan dengan pangan dan gizi. Bukan hanya menggagas, melainkan juga memaparkannya untuk dinilai kelayakan penerapannya.
Latar Belakang
Menurut keterangan Vanessa, gagasan ini berangkat dari Survei Status Gizi Indonesia 2024 yang mencatat 19,8% balita Indonesia mengalami stunting. Angka ini menurutnya akan menghambat pencapaian Indonesia Emas 2045, mengingat pengaruhnya pada kecerdasan dan tumbuh kembang anak. “Rendahnya konsumsi protein hewani menjadi salah satu penyebab utama stunting. Padahal, di lingkungan sekitar kita banyak bahan pangan lokal yang belum dimanfaatkan,” tuturnya.
Salah satunya, lanjut Vanessa, yakni tulang ikan gabus yang kerap kali diperlakukan sebagai limbah pangan yang jumlahnya dapat mencapai 50-55% setelah diolah. Padahal menurutnya, tulang ikan gabus kaya akan kalsium dan protein. Limbah pangan ini kemudian diolah timnya dengan tepung umbi garut yang bebas gula. “Kelompok memperkaya kukis ini dengan tepung tulang ikan gabus. Kandungan protein, kalsium, fosfor, energi, dan vitamin A yang ada di dalamnya cukup tinggi untuk kebutuhan gizi balita,” tambah Ivena.
Fitur Mesin
Kukis ini kemudian dilengkapi dengan mesin yang dapat mengukur berat dan tinggi badan secara otomatis dengan sensor beban dan ultrasonik. Ada pula mikrokontroler yang dapat menghitung skor-Z, angka pembanding pertumbuhan anak dengan standar usianya untuk mengetahui status gizi anak secara langsung.
Riwayat pengukuran ini kemudian disimpan dalam semacam kartu yang memanfaatkan Radio Frequency Identification (RFID). Mesin juga dilengkapi dengan kamera pemindai yang dapat memeriksa kondisi kulit sebagai tanda awal serta panel surya untuk menggerakkan penyalur makanan secara otomatis.
“Perpaduan ini penting agar upaya penanganan gizi tidak lagi bergantung pada catatan manual yang rawan salah dan terlambat. Tapi, membuat kukis bebas gluten yang tinggi gizi sudah cukup sulit. Proses menyatukannya dengan sensor, kartu pintar, kamera, dan panel surya jauh lebih rumit,” tambah Raymond.
Harapan ke Depan
Lebih lanjut, timnya pun berharap inovasi ini dapat diuji lebih dalam, mulai dari uji kesukaan, daya simpan, hingga dampak konsumsi jangka panjang pada status gizi anak. Sejalan dengan Strategi Nasional Percepatan Penurunan Stunting, penggunaannya juga diharapkan dapat diperluas di berbagai posyandu maupun puskesmas untuk mendeteksi masalah gizi sejak dini.









