
Mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK) Soegijapranata Catholic University (SCU) mengkaji 5 tradisi kesehatan masyarakat etnis Indonesia. Hasil kajian tersebut didiskusikan dalam Program Cross Learning Kesehatan dan Tradisi Masyarakat Etnis di Gedung Fransiskus Assisi, Kampus 2 SCU BSB, Rabu (9/9).
Adapun tradisi masyarakat tradisional berkaitan dengan kesehatan yang dibahas antara lain: Mableuen di Prov. Aceh Utara; praktik melahirkan pada adat Suku Ngalum di Lembah Oksibil, Kab. Pegunungan Bintang, Prov. Papua Pegunungan serta Suku Wambon dan Muyu di Kab. Boven Digoel, Prov. Papua Selatan; Isap Buyu pada kepercayaan masyarakat Banjir di Prov. Kalimantan Selatan, serta; ritual Sembogo Manten dan praktik Sangkal Putung pada adat masyarakat Jawa.
Tradisi Kesehatan Masyarakat Tradisional
Mableuen dikenal sebagai sosok pendamping persalinan tradisional yang dipercaya masyarakat Aceh Utara dalam mendampingi ibu dari awal hingga pasca kehamilan. Peran ini sangat dipercaya mengingat adanya kedekatan sosial; terjangkaunya biaya; pendampingan intensif, serta; kesesuaian dengan adat setempat.
Ibu juga diwajibkan mendapatkan pendampingan dari dukun beranak di pondok khusus saat menjalani proses melahirkan dan nifas. Masyarakat setempat percaya bahwa darah persalinan mengandung kekuatan supranatural yang dapat menghilangkan kesaktian laki-laki jika tidak dipisahkan.
Beralih ke Kalimantan Selatan, mahasiswa mengulas Isap Buyu yang merupakan pengobatan tradisional untuk anak yang sulit gemuk karena dipercaya disebabkan oleh gangguan makhluk halus. Ada pula dua tradisi khas Jawa, yaitu ritual Sembogo Manten yang meniupkan asap rokok ke wajah pengantin wanita untuk membuka aura kecantikan, serta; Sangkal Putung, praktik pengobatan patah tulang dilengkapi dengan aspek spiritual.
Sensitif Terhadap Budaya dan Kearifan Lokal
Dosen FK SCU, dr. Matilda Stella Pradnya, MHPE tidak menampik bahwa tradisi ini tetap bertahan di tengah hadirnya layanan kesehatan modern. Ia pun mengingat mahasiswa untuk tetap menghormati kepercayaan sejenis yang dianut masyarakat. “Penting bagi mahasiswa untuk tetap terbuka dengan budaya yang ada di masyarakat. Karena sebetulnya standar medis dan kearifan lokal bisa berjalan berdampingan selama pelayanan kesehatan tetap menghargai kepercayaan yang dianut masyarakat,” jelasnya.
Sejalan dengan itu, Wakil Dekan Bidang Inovasi, Riset, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Kerja Sama FK SCU, Perigrinus H. Sebong, MPH mengajak mahasiswa memahami tradisi masyarakat tradisional yang berkaitan dengan praktik kesehatan. Hal ini penting agar risiko dari praktik tersebut dapat dimitigasi tanpa mengesampingkan nilai budaya setempat.
Sehingga, mahasiswa mahasiswa perlu memperhatikan secara langsung peran budaya terhadap keputusan masyarakat dalam mencari layanan kesehatan. “Karena ritual atau tradisi yang berkaitan dengan kesehatan sebenarnya menyediakan panduan tindakan yang diakui secara sosial untuk menangani penyakit,” tuturnya.









