Mahasiswa semester lima Program Studi Sistem Informasi, Fakultas Ilmu Komputer (FIKOM), Soegijapranata Catholic University (SCU), Elvens Micquel Christanto, berhasil mengembangkan sebuah hologram assistant bernama Kikobot. Inovasi ini menghadirkan asisten virtual yang tidak hanya berinteraksi melalui teks atau suara, tetapi juga memiliki wujud visual hologram 3D sehingga memberikan pengalaman komunikasi yang lebih hidup dan personal.
“Kikobot pada dasarnya adalah asisten virtual dengan tampilan hologram 3D. Tujuannya untuk menghadirkan pengalaman interaksi yang lebih nyata bagi pengguna,” ungkap Elvens.
Nama Kikobot sendiri merupakan singkatan dari “Kita Kongkow Bot”. Menurut Elvens, filosofi tersebut menggambarkan bot yang dirancang sebagai teman virtual yang asyik diajak ngobrol, bukan sekadar robot yang kaku. “Saya ingin Kikobot diposisikan seperti teman yang bisa menemani kita ngobrol kapan saja,” jelasnya.
Pengembangan Kikobot dilakukan dalam rangka proyek Mata Kuliah Teknologi Baru dan Inovasi Sistem Informasi. Elvens menilai mata kuliah tersebut mendorong mahasiswa untuk mengeksplorasi teknologi terkini dan mengubahnya menjadi produk inovatif yang nyata. Ide pengembangan hologram assistant ini juga berangkat dari arahan Dosen Pengampu Mata Kuliah, Prof. Dr. Ridwan Sanjaya, S.E, S.Kom, MS.IEC, yang melihat potensi besar teknologi ini di masa depan.
“Awalnya kami diajari membuat chatbot berbasis teks. Namun, chatbot biasa terasa kurang emosional. Ibarat LDR (Long Distance Relationship atau Hubungan Jarak Jauh), hanya bisa saling berkirim pesan. Karena itu, kami mengembangkan hologram assistant agar bot memiliki ‘wajah’ dan kehadiran fisik sehingga interaksinya lebih personal, interaktif, dan tidak membosankan,” ujar Elvens.
Secara fungsi, Kikobot dirancang sebagai virtual companion atau teman ngobrol. Asisten ini mampu merespons percakapan sehari-hari dan menjadi sarana hiburan saat pengguna merasa bosan. Selain itu, Kikobot juga menjadi media edukasi tentang bagaimana teknologi chatbot dan hologram dapat digabungkan menjadi antarmuka yang futuristik.
Cara kerjanya pun cukup sederhana. Pengguna hanya perlu mengaktifkan mikrofon dan berbicara. Suara tersebut diproses menjadi teks, dipahami oleh sistem, lalu Kikobot merespons kembali melalui suara yang disertai gestur visual hologram yang sinkron. Proses pengembangan Kikobot sendiri memakan waktu sekitar satu hingga dua bulan, mencakup riset, pemrograman logika, hingga perancangan tampilan hologram.
Elvens mengungkapkan bahwa tantangan terbesar dalam proses ini adalah sinkronisasi audio-visual. “Sulit memastikan gerakan bibir dan gestur hologram benar-benar sesuai dengan suara. Kadang suara sudah keluar tapi avatarnya belum bergerak, atau sebaliknya. Menemukan timing yang pas agar terasa natural cukup menghabiskan waktu,” katanya. Tantangan tersebut akhirnya dapat teratasi dengan pendampingan dari Prof. Ridwan.
Ke depan, Kikobot tidak berhenti sebagai teman ngobrol virtual. Prof. Ridwan telah menginisiasi kolaborasi lintas fakultas, khususnya dengan Fakultas Psikologi (FPsi), untuk mengembangkan Kikobot menjadi virtual assistant yang lebih empatik. “Kami ingin Kikobot tidak hanya bisa diajak ngobrol santai, tetapi juga menjadi ‘teman curhat’ yang mampu memberikan dukungan emosional dan mendukung kesehatan mental,” jelas Elvens.
Selain Kikobot, Elvens juga tengah mengembangkan proyek lain berupa AI chatbot sebagai customer service untuk kebutuhan bisnis e-commerce. Berbeda dengan Kikobot yang bersifat santai, chatbot ini dirancang lebih fokus pada ketepatan dan kecepatan dalam menjawab pertanyaan pelanggan, sekaligus membantu efisiensi operasional bisnis.









