TJI SCU Soroti Tantangan Pelaksanaan Program MBG, Harap Kajian Multidiplisiner jadi Dasar Penguatan Kebijakan

TJI SCU Soroti Tantangan Pelaksanaan Program MBG, Harap Kajian Multidiplisiner jadi Dasar Penguatan Kebijakan

Tantangan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi sorotan sejumlah akademisi Soegijapranata Catholic University (SCU) dalam Forum “TJI Tea Talk” di Gedung Henricus Constant, Kampus 1 SCU Bendan pada Jumat, 10 April 2026. Mereka adalah Dr. Ir. Christiana Retnaningsih, MP (Dosen Fakultas Teknologi Pertanian), B.Y. Arya Wastunimpuna, S.T, M.Ars (Dosen Fakultas Ilmu dan Teknologi Lingkungan), dan dr. Patricia Vanessa, Sp.A (Dosen Fakultas Kedokteran).

Selain dosen SCU, forum yang diselenggarakan Pusat Studi The Java Institute (TJI) SCU tersebut juga menghadirkan Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jateng, Ir. Dyah Lukisari, M.Si. dan Mitra Program MBG, Dewi Puspa. Mereka membahas implementasi program MBG, mulai dari distribusi dan keamanan pangan, kesiapan rantai pasok, hingga isu keracunan dan pengelolaan limbah.

Hal-hal tersebut menurut Kepala Pusat Studi TJI SCU, Dr. Ekawati Marhaenny Dukut, sangat erat kaitannya dengan efektivitas program MBG sebagai strategi pencegahan stunting di Indonesia, khususnya Pulau Jawa. “Karena kasus keracunan yang dialami oleh para siswa itu tidak selalu terletak pada proses produksi makanannya, tapi bisa jadi karena proses distribusi. Bisa juga karena dipindahkan ke wadah lain, muncul bakteri. Fenomena ini perlu dikaji secara mendalam, supaya masyarakat pun jadi lebih mengerti kenapa hal tersebut bisa terjadi,” terangnya.

Berkaca pada hal tersebut, Dr. Ekawati menilai pentingnya pendekatan multidisiplin dalam memperhatikan setiap tahap jalannya program. Menurutnya, tahap-tahap krusial seperti produksi, distribusi, hingga konsumsi mesti diawasi secara menyeluruh. Sejalan dengan itu, Dewi menilai bahwa rantai pasok serta standar keamanan pangan juga mesti diperhatikan untuk mencegah hal serupa.

Sependapat, Ir. Dyah menekankan perlunya pengawasan bahan baku. “Kita juga mendorong pemanfaatan bahan pangan lokal agar stabilitas pasokan bisa terjaga,” katanya. Namun demikian, Dr. Retnaningsih mengingatkan bahwa komposisi nutrisi dan gizi yang seimbang juga mesti dijaga. “Khususnya memperhatikan asupan protein hewani yang punya peran dalam mendukung pertumbuhan anak,” tegasnya.

Lebih jauh, Arya menyoroti dampak lingkungan yang dapat ditimbulkan akibat adanya program ini. Maka dari itu, ia menyarankan penggunaan kemasan ramah lingkungan di samping pengawasan pengelolaan limbah secara ketat. “Menjadi penting agar program ini tidak menimbulkan dampak ekologis di masa yang akan datang. Jadi MBG tidak hanya sekedar memenuhi kebutuhan gizi, melainkan mengimplementasikan sistem pangan berkelanjutan,” tandasnya.

Hasil kajian ini pun diharapkan mampu memberikan rekomendasi yang dapat memperkuat pelaksanaan program MBG. Menurut Dr. Ekawati, disinilah perguruan tinggi berperan. “Keterlibatan dosen dan mahasiswa melalui penelitian dan pengabdian kepada masyarakat menjadi penting dalam memperhatikan implementasi program MBG di lapangan,” terangnya.

Picture of Humas

Humas