Fakultas Hukum dan Komunikasi (FHK) Soegijapranata Catholic University (SCU) menggelar Serial Diskusi “Kebijakan Terkait AI dalam Ekosistem Industri Media Massa” pada Kamis, 22 Mei 2026. Kegiatan yang diikuti mahasiswa FHK tersebut menghadirkan Peneliti Litbang Kompas, Yohanes Advent Krisdamarjati.
Diskusi berlangsung interaktif melalui pemaparan materi dan sesi tanya jawab mengenai perkembangan penggunaan artificial intelligence (AI) dalam industri media massa. Perkembangan AI yang semakin masif dinilai menghadirkan tantangan baru bagi dunia jurnalistik, mulai dari persoalan etika, akurasi informasi, hingga integritas media.
Melalui kegiatan ini, FHK SCU mendorong mahasiswa untuk memahami perkembangan teknologi secara kritis sekaligus melihat dampaknya terhadap praktik komunikasi dan jurnalistik di masa depan. Dalam pemaparannya, Yohanes menjelaskan bahwa penggunaan AI di lingkungan media saat ini berkembang cukup luas, mulai dari transkripsi wawancara, pengolahan data, penerjemahan artikel, hingga analisis sentimen media sosial.
Meski demikian, menurutnya, teknologi tersebut tetap harus berada dalam pengawasan manusia agar tidak menghilangkan esensi kerja jurnalistik yang menuntut akurasi, verifikasi, dan tanggung jawab publik. “Semua tetap wajib diawasi dan diuji oleh manusia,” ujar Yohanes.
Ia menegaskan bahwa pemanfaatan AI di industri media tidak dapat dilepaskan dari regulasi dan batasan etik yang jelas. Pekerjaan teknis dan repetitif memang mulai banyak dibantu AI, tetapi proses interpretasi, penulisan jurnalistik, hingga pengambilan keputusan editorial tetap membutuhkan peran manusia. Hal tersebut menjadi semakin penting di tengah maraknya konten hasil olahan AI yang sulit dibedakan dari karya jurnalistik asli.
Selain itu, Yohanes juga menyoroti potensi penyalahgunaan AI dalam produksi informasi. Menurutnya, gambar maupun video berbasis AI tidak boleh diposisikan sebagai representasi fakta, melainkan hanya sebagai ilustrasi pendukung. Karena itu, pengawasan editor tetap diperlukan untuk memastikan informasi yang dipublikasikan tidak menyesatkan publik.
Melalui serial diskusi ini, FHK SCU menegaskan komitmennya dalam menghadirkan ruang pembelajaran yang kontekstual dengan perkembangan industri media. Pembelajaran komunikasi tidak hanya berfokus pada kemampuan teknis, tetapi juga kemampuan berpikir kritis, kesadaran etik, dan tanggung jawab sosial di tengah perkembangan teknologi digital.
Semangat tersebut selaras dengan tagline FHK SCU, Communicating Justice Humanity, yang menempatkan komunikasi sebagai sarana untuk memperjuangkan nilai keadilan, integritas, dan kemanusiaan di tengah arus transformasi teknologi.
Diskusi ini sekaligus menjadi upaya FHK SCU dalam membentuk mahasiswa yang adaptif terhadap perkembangan teknologi tanpa kehilangan sensitivitas sosial dan tanggung jawab moral sebagai calon praktisi komunikasi dan media.









