Film Karya Mahasiswa SCU “Confessio” Tembus Nominasi Festival Film Katolik Internasional di Italia

Film Karya Mahasiswa SCU “Confessio” Tembus Nominasi Festival Film Katolik Internasional di Italia

Faculty of Language and Arts (FLA) Soegijapranata Catholic University (SCU) bersama Rumah Khalwat dan Balai Budaya Rejosari Kudus (RKBBR) Kudus menggelar Pemutaran dan Bedah Film “Confessio” di Teater Thomas Aquinas, Kampus 1 SCU Bendan pada Rabu, 11 Maret 2026. Film berdurasi kurang lebih 20 menit ini disutradarai oleh mahasiswa Program Konsentrasi Digital Performing Arts (DPA) Program Studi Sastra Inggris, FLA SCU, Cornel Yobellakama Innocenci dan diproduksi GsT Production di bawah naungan RKBBR Kudus.

Confessio mengangkat kisah konflik batin seorang imam Katolik yang mendengar pengakuan dosa dari seorang pengusaha sekaligus pejabat publik yang terjerat praktik korupsi. Cerita tersebut berupaya menggambarkan pergulatan moral antara kesalahan, kesadaran hati nurani, dan proses pertobatan.

Film ini pun berhasil menjadi satu-satunya film Indonesia yang meraih Top 3 Best Short Film Nomination pada ajang Mirabile Dictu International Catholic Film Festival ke-17 di Roma, Italia setelah bersaing dengan 1.832 film dari seluruh dunia.

Innocenci menjelaskan bahwa film garapannya berangkat dari keresahan yang dialami penulis skenario, Asa Jatmiko. Dari kegelisahan tersebut lahir cerita tentang seseorang yang dihadapkan pada pergulatan moral ketika menyadari kesalahannya. “Kami ingin mengangkat refleksi tentang kejujuran dan bagaimana seseorang bisa berubah menjadi pribadi yang lebih baik bukan karena ancaman, tetapi karena kesadaran dari hati nurani,” ujar Innocenci dalam sesi diskusi bersama tim produksi setelah pemutaran film yang dihadiri mahasiswa dan dosen FLA SCU. Diskusi tersebut turut membahas proses kreatif pembuatan film, teknik sinematografi, hingga refleksi nilai moral yang diangkat dalam cerita.

Sejalan dengan itu, Susilo Tri Raharjo sebagai aktor utama menyebut bahwa kekuatan utama film Confessio terletak pada pesan reflektif yang ingin disampaikan. “Kekuatan film ini menurut saya ada pada pesannya, bahwa perubahan tidak bisa dipaksakan dengan hukuman atau ancaman. Perubahan yang sejati harus datang dari kesadaran hati manusia sendiri,” ungkapnya.

Proses produksi film ini sendiri dilakukan pada tahun 2025 dengan lokasi pengambilan gambar di kawasan gereja bersejarah di Ambarawa. Tim produksi memilih lokasi tersebut karena karakter arsitektur gereja yang masih mempertahankan nuansa kolonial sehingga dinilai mendukung atmosfer visual film.

Produser Film “Confessio,” Irianto Gunawan menjelaskan bahwa proyek ini juga menjadi upaya RKBBR untuk terus mengembangkan karya kreatif yang melibatkan generasi muda. “Kami ingin memberi ruang bagi generasi muda untuk terus berkarya. Karena itu kami membentuk GsT Production agar karya-karya seni, termasuk film, dapat terus diproduksi dan berkembang,” jelasnya.

Dekan FLA SCU, G.M. Adhyanggono, SS, MA, PhD menyampaikan apresiasi atas capaian Innocenci yang mampu menembus ajang festival film internasional. Menurutnya, prestasi tersebut menunjukkan bahwa karya mahasiswa memiliki potensi untuk bersaing di tingkat global. “Ini menjadi kebanggaan bagi kampus karena mahasiswa mampu menghasilkan karya yang tidak hanya kuat secara artistik, tetapi juga memiliki pesan moral yang mendalam,” ujarnya.

Picture of Humas

Humas