Kerja Sama dengan Universitas Taiwan, Dosen FTP SCU Teliti Kandungan Mikroplastik pada Kerang Hijau di Pesisir Jawa Tengah

Dosen Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Soegijapranata Catholic University (SCU), Mellia Harumi, S.Si., M.Sc. berkesempatan meneliti kandungan mikroplastik pada kerang hijau di wilayah pesisir Jawa Tengah. Penelitian yang akan digarap pada 25 Agustus – 26 Oktober 2026 ini bekerja sama dengan Center for Environmental Toxin and Emerging-Contaminant Research (CENTER), Cheng Shiu University (CSU), Taiwan.

Riset ini berangkat dari potensi kandungan mikroplastik pada kerang hijau yang merupakan salah satu seafood favorit masyarakat Indonesia. “Walau punya kandungan gizi yang baik, cara makan kerang hijau mesti menyaring air laut. Ini menjadi perhatian khusus karena wilayah pesisir Jawa Tengah merupakan salah satu sentra perikanan sekaligus kawasan yang menghadapi tekanan pencemaran dan perubahan lingkungan,” kata Mellia.

Penelitian ini diharapkan dapat mendukung pengembangan kajian tentang keamanan pangan sekaligus pencemaran lingkungan. Kajian ini pun nantinya dapat digunakan sebagai dasar dalam melakukan penelitian lanjutan terkait isu mikroplastik di Indonesia. “Kami ingin tahu sejauh mana  mikroplastik telah mencemari kerang hijau. Data tersebut diharapkan dapat mendukung upaya peningkatan keamanan pangan laut di Indonesia,” tambah Mellia.

Peluang Adopsi Teknologi dalam Penelitian

Kerja sama dengan CENTER CSU memberikan kesempatan Mellia untuk mempelajari sekaligus menggunakan teknologi analisis mikroplastik berbasis Pyrolysis-Gas Chromatography/Tandem Mass Spectrometry (Py-GC/MSMS). Teknologi ini memanaskan sampel kerang hijau dengan suhu sangat tinggi hingga partikel plastik terurai menjadi komponen-komponen yang lebih kecil. Komponen tersebut kemudian dipisahkan dan dianalisis untuk mengidentifikasi jumlah mikroplastik.

Mellia mengatakan bahwa penelitian ini sekaligus merupakan persiapannya untuk menempuh jenjang studi doktoral (pre-doctoral). Pelatihan penggunaan alat berbasis Py-GC/MSMS pun diberikan untuk meningkatkan kompetensinya dalam menganalisis kandungan mikroplastik.

Kerja sama dengan CSU dinilainya penting untuk memperkuat kualitas penelitian dan peningkatan kapasitas analisis. Mellia menerangkan bahwa perguruan tinggi tersebut mempunyai pengalaman dalam pengembangan dan penerapan metode analisis mikroplastik pada sampel pangan dan lingkungan.

“Py-GC/MSMS memang banyak dimanfaatkan dalam penelitian di bidang lingkungan maupun keamanan pangan karena merupakan teknologi instrumentasi terkini,” katanya. Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa teknologi ini dipilih banyak peneliti di bidang terkait karena mampu mendeteksi serta mengukur kandungan mikroplastik secara lebih akurat. “Bahkan dalam jumlah yang sangat kecil,” tambah Mellia. Ia pun berharap penelitiannya dapat memperkuat kerja sama riset internasional antar keduan perguruan tinggi.

Taiwan Experience Education Program (TEEP)

Menurut keterangan Mellia, kerja sama ini memungkinkan dengan adanya  Taiwan Experience Education Program (TEEP). Program luncuran Kementerian Pendidikan Taiwan ini memungkinkan akademisi, peneliti, hingga mahasiswa mengikuti magang dan riset pendek berdurasi 2 hingga 6 bulan di Taiwan. TEEP menawarkan dukungan pendanaan dan insentif untuk mendapatkan pengalaman akademik, riset, hingga magang industri di berbagai universitas, pusat riset, perusahaan swasta, ataupun institusi pendidikan. “Program ini mengembangkan kompetensi dosen melalui program pertukaran peneliti agar menghasilkan penelitian yang berkontribusi pada pengembangan ilmu di bidang keamanan pangan dan lingkungan,” harap Dekan FTP SCU, Dr. Inneke Hantoro, S.TP., M.Sc.

Picture of Humas

Humas