
UPT Promosi dan Rekrutmen Mahasiswa (PRM) bersama Program Studi Teknik Informatika (TI) Soegijapranata Catholic University (SCU) menyelenggarakan Workshop “Agentic Web Developer: Sehari Jadi AI Web Developer” bagi siswa SMA/K se-Kota Semarang. Berlangsung di Gedung Henricus Constant, Kampus 1 SCU Bendan pada Jumat (24/7), workshop bertujuan untuk mengenalkan pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam praktik pengembangan website kepada para siswa secara langsung.
Teknik Informatika
Bersama Ketua Program Studi TI SCU, Yonathan Purbo Santosa, S.Kom., M.Sc., para siswa diajak mengenal proses pengembangan website berbasis AI melalui pendekatan yang aplikatif dan mudah dipahami. Bukan hanya teori, melainkan juga mengajak para siswa mempraktikkan pembuatan sebuah website pribadi yang berisi Curriculum Vitae (CV) digital.
Setiap siswa diminta membuat satu website sebagai portofolio yang dapat diedit, dikembangkan, dan diunggah ke server sehingga dapat diakses secara daring. Melalui pengalaman tersebut, mereka memperoleh gambaran nyata mengenai proses kerja seorang AI Web Developer sekaligus memahami produktivitas dalam dunia pengembangan perangkat lunak.
Menurut Yonathan, AI mampu mempercepat proses pembuatan website. “Melalui workshop ini, kami ingin menunjukan bahwa membuat website saat ini bisa dilakukan dengan lebih mudah berkat bantuan AI. Namun, peserta juga perlu memahami bagaimana teknologi tersebut bekerja sehingga tidak hanya bergantung pada hasil akhirnya,” jelasnya.
AI Web Developer
Selama workshop, peserta diperkenalkan dengan berbagai teknologi yang banyak digunakan di industri, seperti Node.js untuk pengembangan server serta pemanfaatan Agentic AI dalam membantu proses pemrograman. Para siswa juga mempelajari peran AI dalam membantu menyelesaikan berbagai tantangan dalam pembuatan website. Melalui pendekatan yang menghubungkan praktik langsung dengan pemahaman konsep, workshop ini diharapkan mampu membangun literasi digital sekaligus mempersiapkan generasi muda menghadapi perkembangan teknologi yang semakin pesat.
Meski demikian, Yonathan menjelaskan bahwa pihaknya tetap menekankan bahwa AI semestinya diposisikan sebagai alat bantu, bukan pengganti kemampuan manusia. “Kami ingin menanamkan pola pikir kepada teman-teman SMA bahwa AI bukanlah ‘bos’ kita, melainkan ‘karyawan’ kita. Manusialah yang tetap menjadi pengambil keputusan. AI hanya membantu mempercepat pekerjaan, sedangkan kreativitas, logika, dan tanggung jawab tetap berada di tangan manusia.” ungkapnya.









