Kampung Bersejarah Kali Semarang jadi Obyek Kajian SCU dengan ENSAPLV Prancis, Soroti Perannya dalam Perkembangan Kota

Hasil kajian oleh kurang lebih 30 mahasiswa dan dosen perguruan tinggi Indonesia dan Prancis terhadap 4 kampung bersejarah di Kota Semarang dipamerkan. Adapun keempat kampung yang berlokasi di sekitar Kali Semarang tersebut yakni: Sekayu; Melayu; Bustaman; Kranggan.

Kajian merupakan luaran International Research Workshop “Learning from the Kampung: Stories of Urban Informality and Resilience” pada 6-16 September 2026. Workshop merupakan rangkaian kerja sama riset antara Soegijapranata Catholic University (SCU) bersama École Nationale Supérieure d’Architecture Paris La Villette (ENSAPLV), Prancis. Penelitian didukung PHC Nusantara dan telah memasuki tahun kedua.

Adapun pameran diselenggarakan di Gedung Henricus Constant, Kampus 1 SCU Bendan pada 29 September – 1 Oktober 2026. Sebelumnya, pameran serupa telah diselenggarakan di Secret Rack Society, Kota Semarang pada 15–29 September 2026.

Merepresentasikan Peran Kampung dalam Perkembangan Kota

Selama 10 hari, para dosen dan mahasiswa melakukan observasi lapangan, pemetaan, dokumentasi, investigasi, serta berinteraksi langsung dengan masyarakat. Semua itu kemudian dikembangkan dalam bentuk representasi visual. Karya yang ditampilkan tidak hanya memperlihatkan kondisi fisik kampung, melainkan juga cerita dan kehidupan masyarakat di sana.

“Kami ingin peserta workshop benar-benar belajar dari kampung, mulai dari ruangnya, masyarakatnya, dan bagaimana kehidupan sehari-hari di sana. Maka dari itu, interaksi langsung dengan masyarakat menjadi penting,” ungkap Koordinator Workshop dari SCU, Christian Moniaga, S.T., M.Ars.

Sejalan dengan itu, ia pun menilai bahwa keberadaan kampung tidak bisa dilepaskan dari perkembangan Kota Semarang.  “Kampung sangat dengan kehidupan sosial dan ekonomi kita. Apa yang kita lihat (di kampung) sebenarnya juga berkaitan dengan pertumbuhan kota itu sendiri,” jelasnya.

Melengkapi Perspektif

Lebih lanjut, kerja sama dengan ENSAPLV dapat semakin mempertemukan perspektif Indonesia dan Prancis dalam memahami kampung. Menurut Christian, perspektif Prancis yang membawa pengalaman dalam membaca ruang, arsitektur, budaya visual, serta fenomena masyarakat urban dapat melengkapi perspektif pihaknya dalam kedekatan terhadap masyarakat lokal, sejarah, hingga dinamika perkotaan.

Senada dengan itu, hal yang sama juga disampaikan Koordinator Workshop dari ENSAPLV, Dr. Jim Njoo. “Kami mencoba melihat kampung sebagai sebuah kehidupan, di mana ada cerita, memori, aktivitas, hubungan sosial, dan pengalaman masyarakat. Semua itu tidak bisa dijelaskan hanya dengan arsitektur dan bentuk fisik bangunannya,” kata Dr. Jim.

Tim peneliti ENSAPLV datang dari berbagai latar belakang keilmuan, mulai dari arsitektur hingga seni visual seperti pembuatan film. “Visual menjadi cara lain untuk memahami dan mendokumentasi kampung selain hanya dari bentuk ruang, melainkan juga menangkap atmosfer, aktivitas, dan pengalaman yang terjadi di dalamnya,” tambah Dr. Jim.

Picture of Humas

Humas