
Program Studi Arsitektur Soegijapranata Catholic University (SCU) menghadirkan Sharing Session – KUM IAI: 4 “Archvision” untuk memperkenalkan karya dan kiprah lulusan. Berlangsung secara hybrid di Teater Thomas Aquinas, Kampus 1 SCU Bendan, Kamis (13/8), forum ini menyasar berbagai kalangan, mulai dari calon mahasiswa, mahasiswa, hingga jejaring mitra industri.
Kiprah Alumni
Turut dihadirkan 2 alumni, Dr. Ir. Taufan Madya Sworo, S.T., M.T. dan Rosiana Budiarti Santoso, S.Ars. Keduanya telah berkiprah masing-masing di sektor pemerintah dan swasta. Dr. Taufan saat ini tengah menjabat sebagai Penata Kelola Bangunan Gedung dan Kawasan Permukiman (PKBGKP) Ahli Madya Kementerian Pekerja Umum (PU) RI. Sementara, Rosiana yang baru menyelesaikan studinya pada 2024 saat ini tengah membangun karier sebagai Junior Architect di Nodes Architect Studio. Mereka saling berbagi pengalaman sekaligus peran kompetensi yang diperoleh selama menempuh studi dapat mendukung karier mereka di dunia profesional.
Hadirnya dua alumni ini menurut Ketua Program Studi Arsitektur SCU, Dr. Ir. V.G. Sri Redjeki, M.T. sejalan dengan profil lulusannya. Ia menjelaskan bahwa program studi membuka peluang bagi para lulusan untuk berkiprah di berbagai bidang profesional. Beberapa di antaranya seperti arsitek, perencana dan pembuat kebijakan, akademisi, hingga wirausaha. “Tujuannya memang memperkenalkan luaran dari mahasiswa dan alumni yang dari sini bisa di mana saja, bisa bekerja di mana saja,” ujarnya.
Mahasiswa Berprestasi
Selain alumni, dihadirkan mahasiswa berprestasi, Neysya Hartono, Jennifer Purnomo, dan Novita Masitoh. Mereka membagikan pengalamannya memenangkan Juara 2 Sayembara Resilience Architecture “Best of Studio” 2026 gelaran Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jateng bersama Program Studi Arsitektur SCU. Ketiganya mengembangkan desain bangunan yang dapat beradaptasi, bertahan, dan mendukung proses pemulihan terhadap bencana banjir. Desain tidak hanya memperhatikan infrastruktur, melainkan juga ekonomi, keselamatan, dan keberlangsungan kehidupan penggunanya. “Kami ingin mengasah kemampuan merancang bangunan yang tidak hanya estetis, tapi juga adaptif, solutif, dan aman di wilayah rawan bencana, sekaligus mampu mendukung pemulihan sosial-ekonomi pascabencana,” ujar Neysya.
Berangkat dari persoalan banyaknya korban yang tidak mempunyai cukup waktu untuk menyelamatkan diri, Neysya menjelaskan bahwa desain yang timnya kembangkan menggunakan sistem pondasi dengan puing beronjong dan sistem panggung. Desain tersebut tidak sepenuhnya dimaksudkan untuk menghalau bencana, melainkan memberi waktu tambahan untuk proses evakuasi. “Karena sebenarnya tidak ada bangunan yang benar-benar menghalau bencana. Kami lebih fokus untuk membuat hunian sementara yang ‘memberi waktu lebih’ dalam proses evakuasi ketika bencana terjadi,” terang Neysya..
Desain yang Berkelanjutan
Tidak hanya berorientasi pada kemampuan desain, program studi juga menanamkan kepedulian terhadap lingkungan sebagai karakter pembelajaran arsitektur. Dr. Redjeki menyebut perhatian terhadap ekologi dan bangunan hijau telah menjadi identitas program studi sejak lama, bahkan sebelum isu keberlanjutan menjadi tren dalam industri.
“Spirit universitas itu kaitannya dengan keberlanjutan, bangunan hijau, dan peduli lingkungan. Ekologi itu kita pegang terus. Harapannya teman-teman mahasiswa tidak hanya menghasilkan desain yang estetis, tetapi juga mempertimbangkan kondisi lingkungan, keselamatan, serta keberlanjutan kehidupan masyarakat,” ungkapnya.
Komitmen ini menurutnya juga diperkuat melalui pengembangan kompetensi dosen dalam bidang bangunan hijau dan penerapannya dalam proses perancangan. Lebih lanjut, nilai keberlanjutan juga diarahkan untuk hadir dalam Pameran Karya Mahasiswa “Archvision” 2026 di Selasar Thomas Aquinas, Kampus 1 SCU Bendan pada 12-14 Agustus 2026.









