
Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Soegijapranata Catholic University (SCU) menggagas QRISPY, semacam standar kode sejenis QRIS, yang dapat memastikan penerimaan pajak daerah dari UMKM. Mahasiswa Program Business Accounting, Program Studi Akuntansi tersebut adalah Aurellia Immanuella Susanto (Alumna SMA Theresiana 1 Semarang) dan Caryn Cecilia Subandi (Alumna SMAN 1 Surakarta). Inovasi ini mereka tuangkan dalam Infografis “Revolusi QRIS: Pendapatan Publik yang Transparan di Era Digital.”
Infografis tersebut berhasil membawa mereka meraih Juara 3 SMARTAKSI. Kompetisi infografis tersebut diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Akuntansi (HMPA) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Dian Nuswantoro (UDINUS) pada 8 Februari – 18 April 2026 secara daring.
Memastikan Penerimaan dan Penggunaan Pajak
Aurellia menjelaskan bahwa adanya QRISPY bertujuan untuk menutup kebocoran pajak yang seringkali dialami sektor UMKM karena pelaporan yang masih dilakukan secara manual. Hal ini menurutnya menyebabkan penerimaan pajak secara utuh tidak dapat dipastikan Pemda. “Karena cukup akrab dengan pelaku UMKM, kami juga ikut mengamati bahwa mereka tampak kerepotan dalam merekap pajak. Di sisi lain, Pemda juga merasa kesulitan saat memeriksa laporan karena rawan dimanipulasi,” tuturnya.
Lebih lanjut, adanya QRISPY memungkinkan pemisahan pembayaran secara realtime dengan besaran pajak yang harus dibayarkan. “Barcode-nya secara otomatis akan mengalirkan 10% dari besaran pembayaran ke kas daerah sebagai penerimaan pajak. Sementara, 90% sisanya tetap masuk ke rekening pemilik usaha,” tambah Caryn.
Barcode ini menurut keterangan Caryn juga memanfaatkan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam prosesnya. Dalam hal ini, khususnya untuk melacak dan memastikan penggunaan penerimaan pajak dalam peta digital yang dinamai “Peta Transparansi.” Peta tersebut akan menggambarkan penggunaan aliran penerimaan pajak yang telah dibayarkan.
Cara Pandang
Pengalaman mengikuti kompetisi menurut Caryn dan Aurellia mengubah cara pandang mereka tentang pemanfaatan AI dalam akuntansi. “Calon akuntan di era digital tidak lagi disiapkan hanya sekadar untuk bersaing dengan mesin dalam mencatat angka, tetapi harus menjadi analis dan perancang sistem,” kesan Caryn.
Sejalan dengan itu, Aurellia juga mengatakan hal yang sama. “Kami belajar bahwa program studi kami tidak hanya sebatas mencatat transaksi, melainkan juga memastikan bagaimana menjaga aliran dana keuangan tersebut agar tidak bocor atau disalahgunakan,” tambah Aurellia.









