
Ketua Program Studi Sistem Informasi (SI) Soegijapranata Catholic University (SCU), Dr. Albertus Dwiyoga Widiantoro, S.Kom., M.Kom. turut serta dalam NMT Leadership Enhancement Through Awareness and Peer-Learning (LEAP) for Transformational Change 2026. Program tersebut diselenggarakan Universitas Kristen (UK) Petra dan Universitas Surabaya (UBAYA) didukung German Academic Exchange Service (DAAD) melalui Dialogue on Innovative Higher Education Strategies (DIES), Universitas Potsdam, German Federal Ministry for Economic Cooperation and Development (BMZ), dan Dirjen Dikti Kemendiktisaintek RI.
Program pengembangan kepemimpinan ini diikuti 25 pimpinan perguruan tinggi se-Indonesia. Pelatihan ini menjadi ruang pembelajaran melalui penguatan kepemimpinan; refleksi kepemimpinan, dan; peer-learning. Tujuannya untuk meningkatkan kapasitas pimpinan perguruan tinggi dalam merespons perubahan serta mendorong transformasi di institusi.
Latar Belakang
Dinamika ekosistem pendidikan tinggi yang semakin kompleks menuntut Dr. Dwiyoga bersama pimpinan perguruan tinggi lainnya dalam membaca arah perubahan tersebut. NMT LEAP 2026 menjadi kesempatan baginya untuk memperluas wawasan tentang kepemimpinan transformatif bersama pimpinan perguruan tinggi lainnya.
“Bukan hanya manajerial, kepemimpinan perguruan tinggi masa kini membutuhkan kemampuan memahami perubahan, serta membangun kolaborasi, untuk menggerakkan institusi secara strategis menuju transformasi yang berkelanjutan,” ungkapnya.
Topik dan Isu Strategis
Berlangsung di Kota Surakarta pada 9-13 Agustus 2026, forum ini pun membahas sejumlah isu strategis yang dihadapi perguruan tinggi saat ini. Adapun di antaranya transformasi digital dan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI); perubahan karakteristik generasi mahasiswa; penguatan tata kelola institusi; sustainability; peningkatan kapasitas riset, hingga; pengembangan jejaring kolaborasi internasional.
Isu tersebut menurut Dr. Dwiyoga tidak bisa terpisahkan dari kebutuhan perguruan tinggi untuk terus beradaptasi. Transformasi pendidikan tinggi, menurutnya, tidak hanya berkaitan dengan pemanfaatan teknologi, melainkan juga menyangkut pembangunan tata kelola, pengembangan kapasitas sumber daya manusia, serta merespons perubahan kebutuhan mahasiswa dan masyarakat.
Adanya peer-learning juga memungkinkan para pimpinan perguruan tinggi saling berbagi pengalaman dan praktik dalam menghadapi tantangan pendidikan tinggi. “Pertukaran perspektif menjadi penting dalam membangun pemahaman bahwa transformasi institusi dapat dikembangkan melalui kolaborasi dan pembelajaran bersama,” kata Dr. Dwiyoga
Fokus Bahasan
Salah satu fokus pembahasan adalah penguatan kapasitas melalui strategi riset global dan kerja sama internasional. Perguruan tinggi didorong untuk melihat riset tidak hanya dari sisi jumlah publikasi ilmiah, tetapi juga dari dampak yang dapat dihasilkan bagi masyarakat.
“Penguatan riset perlu diarahkan bukan hanya untuk menghasilkan publikasi ilmiah, melainkan juga menciptakan dampak yang lebih luas melalui inovasi; pemanfaatan hasil penelitian; pengembangan jejaring kerja sama, serta; kontribusi terhadap penyelesaian berbagai persoalan masyarakat,” tegas Dr. Dwiyoga.
Di sisi lain, perguruan tinggi juga perlu menghubungkan pengembangan pengetahuan dengan peningkatan kompetensi mahasiswa serta kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, perguruan tinggi tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga berkontribusi dalam menciptakan solusi terhadap berbagai tantangan masyarakat.
Selain itu, isu keberlanjutan yang dibahas peran perguruan tinggi dalam mengintegrasikan nilai ini dalam penyelenggaraan pendidikan. “Institusi pendidikan tinggi diharapkan mampu mengintegrasikan nilai keberlanjutan dalam pembelajaran, penelitian, tata kelola, hingga kontribusi sosial kepada masyarakat,” jelas Dr. Dwiyoga.









