
UPT Perpustakaan Soegijapranata Catholic University (SCU) kembali menyelenggarakan Forum “Talk & Brew” di Lib Cafe, Kampus 1 SCU Bendan pada Rabu (26/8). Mengangkat tema “Kain dan Identitas: How We Wear, How We Communicate,” forum menghadirkan Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi SCU, Cecilia Pretty Grafiani, S.I.Kom., M.I.Kom., untuk mengajak sivitas akademika melihat kain dan cara berpakaian sebagai cara mengkomunikasikan identitas diri.
Bukan hanya sebagai penutup tubuh, Cecilia menjelaskan bahwa pakaian juga dapat menjadi media untuk menunjukkan identitas seseorang. Cara memilih, mengenakan, hingga mengolah kain dapat digunakan untuk menciptakan persepsi tertentu. “Kain bukan cuma benda, tapi juga ‘bahasa’,” ujarnya.
Talk & Brew
Menurutnya, kain dapat membawa beragam pesan yang berkaitan dengan identitas, baik secara personal, sosial, hingga budaya. Kain tradisional seperti batik, lurik, songket, ulos, hingga tenun ikat, misalnya, dapat merepresentasikan daerah, tradisi, komunitas, sejarah, dan nilai budaya tertentu.
Lebih dari itu, cara seseorang mengenakan kain juga dapat mencerminkan karakter, selera, kreativitas, kepercayaan diri, hingga gaya hidup. Di sisi lain, pakaian juga dapat menyampaikan identitas sosial yang berkaitan dengan profesi, status, kesempatan atau konteks acara, kelompok sosial, bahkan pilihan tertentu yang ingin ditampilkan oleh seseorang.
“Kain yang sama bisa terlihat sangat berbeda tergantung siapa yang memakainya,” jelas Cecilia. Lebih lanjut, ia menekankan bahwa pesan yang muncul tidak hanya ditentukan oleh jenis kain, melainkan juga oleh siapa yang mengenakannya, cara kain tersebut dikenakan, serta konteks penggunaannya.
Makna Kain sebagai Identitas
Maka dari itu, pertimbangan akan selalu muncul ketika memilih pakaian, mulai dari jenis, motif, warna, hingga aksesoris yang digunakan. Pilihan tersebut kemudian dipertemukan dengan identitas pemakainya serta tempat dan waktu kain tersebut dikenakan. Dari perpaduan itu, muncul pesan yang ingin ditangkap oleh orang lain.
Cecilia juga memperkenalkan filosofi berkain sebagai aktivitas mengenakan kain tradisional, seperti batik, tenun, songket, maupun lurik, baik dalam situasi formal maupun nonformal. Menurutnya, kekayaan kain Nusantara tidak hanya terlihat dari ragam motif dan warnanya, tetapi juga dari sejarah, nilai filosofis, serta cara pemakaian yang beragam.









