
Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Soegijapranata Catholic University (SCU) mendampingi kelompok perempuan nelayan dan Kelompok Usaha Bersama (KUB) di Desa Banyutowo, Kec. Dukuhseti, Kab. Pati, dalam menerapkan teknologi pengolahan ikan asap berbasis asap cair food grade dan oven terkontrol.
Kegiatan yang dilaksanakan pada 26 – 27 Juli 2026 tersebut diketuai Dosen Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) SCU, Dyah Wulandari, S.Si., Ph.D. PkM dilakukan untuk mengatasi sejumlah permasalahan yang masih dihadapi pelaku usaha ikan asap, seperti paparan asap selama produksi, mutu produk yang belum seragam, keterbatasan pengemasan, serta pengelolaan usaha yang masih sederhana.
Pengabdian kepada Masyarakat
Desa Banyutowo merupakan salah satu kawasan nelayan dan pengolahan hasil perikanan di Kab. Pati. Pengolahan ikan asap menjadi salah satu kegiatan ekonomi masyarakat setempat. Perempuan nelayan turut berperan dalam proses pascapanen dan pengolahan hasil perikanan.
Selama ini, proses pengasapan secara tradisional masih mengandalkan pembakaran kayu atau tempurung kelapa secara langsung. Metode tersebut menghasilkan asap pekat selama proses produksi dan membuat pengendalian suhu serta waktu pengolahan menjadi lebih terbatas. Kondisi tersebut dapat mempengaruhi keseragaman mutu produk yang dihasilkan.
Dyah menjelaskan bahwa teknologi asap cair dipilih sebagai alternatif yang lebih mudah dikontrol dan sesuai untuk diterapkan pada usaha skala rumah tangga. “Asap cair food grade dapat memberikan karakter aroma asap tanpa mengharuskan pekerja terpapar langsung oleh asap pembakaran selama proses produksi. Penggunaan oven juga membantu mengendalikan suhu dan waktu sehingga produk berpotensi memiliki mutu yang lebih konsisten,” jelasnya.
Dalam kegiatan tersebut, peserta memperoleh penjelasan mengenai pemilihan asap cair food grade, persiapan bahan baku, penggaraman, perendaman, penirisan, pemanasan menggunakan oven, pendinginan, hingga pengemasan produk. Pelatihan dilaksanakan melalui praktik langsung agar teknologi dapat dipahami dan diterapkan sesuai kondisi usaha mitra.
Pendekatan Partisipatif
Selain aspek produksi, mahasiswa dan dosen SCU juga memberikan pendampingan mengenai higiene dan sanitasi, penimbangan produk, penggunaan kemasan yang lebih higienis, serta pengembangan label “Sentra Ikan Asap Banyutowo, Pati – Jawa Tengah.” Identitas tersebut dikembangkan untuk memperkuat pengenalan produk ikan asap dari Banyutowo.
Prototipe label yang dikembangkan memuat pilihan jenis ikan, berat bersih, identitas produk, dan informasi bahan. Desain tersebut masih akan disempurnakan dengan melengkapi informasi produsen, tanggal dan kode produksi, petunjuk penyimpanan, masa kedaluwarsa, serta informasi perizinan sesuai ketentuan pangan olahan.
Pada aspek manajemen usaha, mitra diperkenalkan pada pencatatan biaya produksi, penentuan harga pokok, harga jual, keuntungan, dan titik impas atau break-even point (BOP). Pencatatan tersebut diperlukan agar pelaku usaha dapat mengetahui biaya produksi yang sebenarnya dan menetapkan harga jual secara lebih tepat.
Manajemen Usaha
“Peningkatan mutu produk harus diikuti dengan penguatan pengemasan dan manajemen usaha. Produk yang baik perlu didukung identitas yang jelas, harga yang diperhitungkan secara tepat, serta pencatatan usaha yang dilakukan secara rutin,” tambah Dyah.
Program ini menggunakan pendekatan partisipatif dengan melibatkan perempuan nelayan dalam diskusi, penyiapan bahan, praktik produksi, penimbangan, dan pengemasan. Keterlibatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kapasitas perempuan sebagai pelaku utama dalam rantai nilai hasil perikanan.
Sebagai tindak lanjut, Dyah dan timnya akan mendorong finalisasi standar operasional prosedur produksi (SOP), penyelarasan formulasi asap cair, pengujian mutu dan umur simpan, penyempurnaan label, serta penggunaan catatan produksi dan keuangan. Pendampingan lanjutan juga diperlukan untuk mendukung perizinan, sertifikasi halal, dan perluasan pemasaran produk.









