TI SCU Gelar Kompetisi Web Game, Kenalkan Teknologi Vibe Coding untuk Siswa SMA/K se-Kota Semarang

Program Studi Teknik Sipil Soegijapranata Catholic University (SCU), melalui Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika (HMTI) menyelenggarakan workshop dan kompetisi membuat web game dengan vibe coding. Dikemas dalam “TechXplore,” kegiatan yang diikuti 5 SMA/K di Kota Semarang ini berlangsung di Laboratorium Teknik Informatika, Gedung Henricus Constant, Kampus 1 SCU Bendan pada Sabtu, 6 Mei 2026.

Kompetisi Membuat Website Game dengan AI

Para siswa diberikan kebebasan membuat game sesuai ide masing-masing dan dinilai berdasarkan 4 indikator, yakni kecanggihan fitur, tampilan UI/UX, kreativitas dan originalitas, serta presentasi proyek. Mereka diberikan waktu 90 menit untuk mengembangkan game berbasis website menggunakan bantuan AI.

Sebelum berkompetisi, para siswa dibekali terdahulu dengan workshop yang berbicara tentang kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Dalam hal ini, khususnya teknik memberi perintah ke AI atau yang biasa disebut prompting dan vibe coding.

Vibe coding sendiri merupakan proses memberikan instruksi (prompting) kepada AI untuk membantu membuat kode program (coding). Teknologi tersebut memanfaatkan aplikasi coding yang telah terintegrasi AI, sehingga pengguna dapat meminta AI membuatkan kode secara otomatis. “Kami melihat ada yang memang sudah mengerti vibe coding, tapi ada juga yang masih awam dan baru mencoba mencari pengalaman,” jelas Kaprodi Teknik Informatika (TI) SCU, Yonathan Purbo Santosa, S.Kom, M.Sc.

Tujuan dan Capaian

Yonathan menjelaskan pihaknya ingin memperkenalkan AI kepada para siswa sekaligus melatih mereka dalam memanfaatkannya secara tepat. “Kami melatih mereka bagaimana membuat sebuah aplikasi website menggunakan teknologi baru, yaitu agentic AI atau yang sering dikenal dengan vibe coding,” ujarnya. Namun demikian, Yonathan menegaskan bahwa hasil coding dari AI tetap harus diperiksa ulang oleh manusia karena masih berpotensi salah.

Hal senada disampaikan Ketua TechXplore, Ferdi Ivano. “Sekarang banyak yang membuat website semuanya menggunakan AI, tapi ternyata ketika dicek banyak error, terutama di backend dan keamanan. Jadi AI memang membantu mempercepat pekerjaan, tapi tidak bisa sepenuhnya menggantikan programmer,” ujarnya.

Picture of Humas

Humas