Forum Diskusi Perpustakaan SCU Bahas Film sebagai Pembentuk Pengetahuan dan Pengalaman

Forum “Talk and Brew” yang diselenggarakan UPT Perpustakaan Soegijapranata Catholic University (SCU) mengulas peran film yang bukan hanya sebagai hiburan, melainkan juga ruang pengetahuan dan pengalaman emosional. Dosen Fakultas Hukum dan Komunikasi (FHK) sekaligus Fakultas Ilmu dan Teknologi Lingkungan (FITL) SCU, P. Danardono, S.H, Mag.Hum. mendiskusikan hal tersebut bersama dosen, mahasiswa, dan tenaga kependidikan SCU di Lib Cafe, Kampus 1 SCU Bendan pada Jumat (29/5).

Dalam kesempatan tersebut, Danardono mengajak para peserta “Talk and Brew” untuk memandang film sebagai media untuk mendorong penontonnya mempertanyakan kondisi sosial, nilai dan norma dalam masyarakat, bahkan diri mereka sendiri.  “Film pada dasarnya adalah media pengetahuan yang merangsang indra penglihatan melalui rangkaian gambar bergerak dan indra pendengaran melalui suara,” jelas Danardono.

Ia menambahkan bahwa susunan gambar dan suara dalam film mampu membentuk pengalaman emosional yang kuat bagi penontonnya. Karena itu, sebuah film dapat menghadirkan rasa haru, takut, marah, hingga empati secara bersamaan di ruang bioskop.

Menurutnya, kekuatan utama film terletak pada sinematografi atau ‘seni bertutur melalui kamera’ yang membentuk emosi penonton. Ia mengutip pemikiran Ed S. Tan yang menyebut film sebagai emotion machine, di mana film dirancang untuk menghasilkan efek emosional tertentu pada penontonnya. “Film memang bisa membentuk nalar kritis maupun mengeksploitasi nalar, emosi, dan erotisme,” ungkap Danardono.

Konsep “heterotopia” dari filsuf Prancis Michel Foucault menjadi salah satu pokok utama diskusi. Danardono menjelaskan bahwa bioskop merupakan ruang lain’ yang mampu mempertemukan berbagai ruang dan pengalaman berbeda ke dalam satu layar dua dimensi. Melalui kamera, penonton seolah dibawa masuk ke berbagai realitas yang saling bertabrakan dan membentuk makna baru. “Bioskop merupakan ruang yang terdiri dari sebuah layar empat persegi dan dua dimensi yang mampu menjajarkan berbagai peristiwa dari ruang tiga dimensi yang asing satu sama lain,” kata Danardono.

Beberapa film turut dijadikan contoh dalam pembahasan, seperti “Habibie & Ainun” yang mampu membangkitkan emosi penonton, “Dilan 1990” yang menghadirkan nostalgia masa remaja, hingga “Kucumbu Tubuh Indahku” yang memicu perdebatan sosial di masyarakat.

Selain itu, Danardono juga menyoroti perkembangan teknologi kamera dalam sejarah film. Pada era awal perfilman, kamera yang berukuran besar dan sulit digerakkan membuat pengambilan gambar cenderung statis sehingga adegan tampak seperti pertunjukan teater. Namun, perkembangan kamera digital memungkinkan sudut pandang yang lebih dinamis sehingga penonton dapat merasa menjadi hadir di dalam cerita.

Film “Elephant” dan “The Act of Killing” turut dibahas sebagai contoh bagaimana teknik kamera dan dokumentasi dapat membentuk refleksi kritis serta katarsis psikologis, baik bagi penonton maupun tokoh di dalam film.

Menutup diskusi, Danardono menegaskan bahwa kamera film memiliki kekuatan besar dalam membangun cara pandang manusia terhadap realitas. “Film dapat membuat perasaan kita teraduk-aduk karena kamera film diusahakan menjadi mata penonton. Hanya dengan ini cara film bisa membentuk pengetahuan dan pengalaman para penontonnya” ujarnya.

Picture of Humas

Humas