
Program Studi Doktor Ilmu Lingkungan (PDIL) Soegijapranata Catholic University (SCU) kembali menyelenggarakan Webinar Sustain Talk “Valuasi Aset Badan Usaha Milik Masyarakat Adat melalui Model Akuntansi Lingkungan” pada Sabtu, 16 Mei 2026. Webinar menghadirkan Prof. Dr. Theresia Dwi Hastuti, M.Si., Akt., CA., CPA., CGAA (Ketua PDIL SCU), Kurniawan Patma, S.E, M.Ak (Mahasiswa PDIL SCU dan Dosen Universitas Cendrawasih), dan Asep Yunan Firdaus, S.H, M.H (Direktur Epistema Institute).
Mereka membahas membahas valuasi lingkungan dari berbagai perspektif, mulai dari kajian teori dan akademik, aspek hukum dan adat budaya, hingga implementasinya dalam akuntansi serta pengelolaan daerah adat. “Topik ini sangat relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan kebutuhan masyarakat terkait nilai lingkungan dalam pengambilan keputusan,” jelas Prof. Theresia.
Kurniawan membahas hasil risetnya tentang implementasi valuasi lingkungan pada masyarakat adat Papua dan penilaian asetnya. Sementara itu, Prof. Theresia mengulas konsep valuasi lingkungan, sedangkan Asep membedah aspek hukum dan adat dalam perlindungan lingkungan.
Prof. Theresia menilai pembahasan mengenai valuasi lingkungan menjadi semakin penting di tengah kondisi lingkungan yang terus tergerus oleh pembangunan. “Sangat urgent karena kondisi lingkungan saat ini banyak tergerus untuk pembangunan, tetapi kurang menghargai valuasi lingkungannya,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa kajian valuasi lingkungan dibutuhkan oleh banyak pihak, mulai dari investor, pemerintah, masyarakat adat, pakar ekonomi, akuntansi, pemerhati lingkungan, hingga lembaga swadaya masyarakat sebagai dasar pengambilan keputusan yang berkelanjutan.
Sejalan dengan itu, Dekan Fakultas Ilmu dan Teknologi Lingkungan (FITL) SCU, Benediktus Danang Setianto, S.H, MIL., LLM., Ph.D, melihat nilai ekologis tradisional dalam masyarakat menjadi perhatian dalam kajian ilmu lingkungan. Menurutnya, hal ini perlu didukung dengan pendekatan ekonomi agar dapat diterapkan dalam kondisi nyata di masyarakat.
“Tradisi yang dikaitkan dengan pengetahuan ekologis kini menjadi wacana baru. Ada banyak sisi dari tradisi masyarakat adat yang bisa kita ulik sebagai bentuk pengetahuan ekologis. Salah satu upaya memungkinkan dengan kondisi saat ini adalah menunjukkan adanya nilai ekonomis yang dimiliki tradisi-tradisi yang dijaga,” tuturnya dalam sambutan. Lebih lanjut, Benediktus juga menilai bahwa perpaduan antara kepentingan ekonomi, sosial masyarakat, dan perlindungan lingkungan dapat menciptakan tata kelola lingkungan yang lebih baik.
Hal ini pun sejalan dengan pernyataan Prof. There yang menyebutkan bahwa adanya forum rutin tiga bulanan ini bertujuan untuk membahas isu-isu lingkungan yang relevan dan dikaitkan dengan berbagai pendekatan multidisiplin. Selain itu, forum ini juga bertujuan untuk menyosialisasikan hasil riset dan disertasi sebelum diuji secara akademik.
“Webinar ini menjadi wadah untuk mendiskusikan tema-tema lingkungan yang up to date sekaligus upaya untuk mensosialisasikan disertasi bahkan sebelum diuji karena itu merupakan pertanggungjawaban akademisi kepada masyarakat,” ungkap Prof. Theresia.









