SBC jadi Upaya Teknik Sipil SCU Lahirkan Insinyur Muda dengan Perhatian pada Akses Infrastruktur Wilayah DTPK

SBC jadi Upaya Teknik Sipil SCU Lahirkan Insinyur Muda dengan Perhatian pada Akses Infrastruktur Wilayah DTPK

Sebanyak 10 tim pelajar dari berbagai SMK dan perguruan tinggi se-Jateng & DIY berkompetisi membuat prototipe jembatan dalam babak final Soegija Bride Competition (SBC) 2.0 yang diselenggarakan Keluarga Mahasiswa Teknik Sipil (KMTS) Soegijapranata Catholic University (SCU) pada Sabtu, 21 Februari 2026. Delapan tim pelajar SMK dan dua tim perguruan tinggi sebelumnya telah bersaing dengan 37 tim lainnya dalam babak penyisihan yang diselenggarakan secara daring pada 5-14 Februari 2026.

Perhatian Akses Infrastruktur pada Daerah Terpencil

Ketua Program Studi Teknik Sipil SCU, Ir. Gabriel J.P. Ghewa, ST, MT, menyebut pihaknya ingin memberikan wadah bagi generasi muda untuk mengembangkan kreativitas dan kemampuan mereka dalam rekayasa infrastruktur jembatan. Pemilihan jembatan sendiri menurut keterangannya berangkat dari pembangunan jembatan yang menjadi prioritas strategis nasional, khususnya untuk menghubungkan wilayah-wilayah terpencil.

Hal ini menurut Ghewa sejalan dengan salah satu perhatian program studi dalam menyoroti akses infrastruktur di wilayah Daerah Tertinggal, Perbatasan, dan Kepulauan (DTPK). “Jembatan pernah menjadi prioritas nasional, pembangunannya digenjot untuk menghubungkan daerah-daerah terpencil. Dari situ, kami melihat jembatan sebagai isu yang relevan untuk digali lebih dalam. Dibandingkan gedung, jembatan juga lebih familiar dan mempunyai daya tarik tinggi di kalangan pelajar mahasiswa,” tandasnya.

Sejalan dengan itu, Ghewa menambahkan bahwa ide desain jembatan yang dihasilkan dalam SBC akan dipotret dan dikembangkan menjadi bahan ajar dalam sejumlah mata kuliah. Beberapa di antaranya seperti Struktur, Struktur Kayu, dan Struktur Jembatan. “Gagasan yang lahir dari kompetisi ini dapat terus dikaji dan menjadi referensi pembelajaran di lingkungan kampus, karena karakter pembelajaran kami kuat pada aspek struktur bangunan, khususnya pada struktur jembatan baja,” lanjut Ghewa.

Kompetisi Membuat Prototipe Jembatan

Memasuki tahun keempat, Ketua SBC 2.0, Sean Terry Jordan, menjelaskan bahwa kompetisi ini menghadirkan tema yang berbeda tiap tahunnya. Tahun ini, indikator penilaian difokuskan pada kemampuan prototipe jembatan dalam menahan beban dengan batas berat struktur tertentu. Penilaian ini berbeda dengan tahun sebelumnya yang memasukkan perhitungan biaya material pembangun jembatan. “Kami memberikan ruang kreativitas sebebas-bebasnya untuk para peserta bisa mengeksplorasi desain dan struktur tanpa membatasi faktor harga bahan bangunan jembatan seperti tahun sebelumnya,” terangnya.

Sejalan dengan itu, kesepuluh finalis merupakan 10 tim terbaik yang telah merancang prototipe jembatan secara daring dengan nilai efisiensi tinggi. Adapun nilai efisiensi yakni perbandingan antara beban maksimum yang mampu ditahan dibandingkan dengan berat jembatan. “Yang membedakan babak final dengan penyisihan ini hanya terletak pada waktu yang dibatasi, yaitu 90 menit,” tambah Sean.

Facebook
Twitter
LinkedIn
Email
WhatsApp