Respons Dampak Perubahan Iklim terhadap Masyarakat Pesisir, Festival Bahari SCU dan KIARA Dorong Kedaulatan Pangan Laut dan Komunitas Nelayan

Respons Dampak Perubahan Iklim terhadap Masyarakat Pesisir, Festival Bahari SCU dan KIARA Dorong Kedaulatan Pangan Laut dan Komunitas Nelayan

Ancaman krisis iklim terhadap ketahanan pangan laut menjadi isu yang diangkat dalam Festival Bahari 2025 gelaran Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) dan Fakultas Ilmu dan Teknologi Lingkungan (FITL) Soegijapranata Catholic University (SCU) bersama Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA) di Gedung Fransiskus Asisi, Kampus 2 SCU BSB, pada 25-26 November 2025. Mengusung tema “Menemukan Solusi Krisis Iklim: Pengorganisasian Ekonomi guna Mewujudkan Kedaulatan Pangan Laut untuk Keberlanjutan Komunitas Nelayan dan Pesisir,” kegiatan ini menjadi upaya dalam membahas strategi penguatan ekonomi masyarakat pesisir sekaligus meningkatkan kesadaran publik terkait urgensi pengelolaan pangan laut yang berkelanjutan.

Memasuki tahun kedua, Deputi Program dan Jaringan KIARA, Erwin Suryana, menjelaskan bahwa inisiatif ini lahir dari kepedulian terhadap kondisi nelayan dan masyarakat pesisir lainnya yang terdampak perubahan iklim. “Kerja sama dengan perguruan tinggi memungkinkan ruang belajar bagi kami, dampaknya sangat dirasakan oleh komunitas nelayan dampingan kami,” ungkapnya.

Dalam kegiatan ini, pihaknya mengundang keterlibatan komunitas nelayan dampingan dari Batang, Kendal, Semarang, Demak, Jepara, hingga Karimunjawa. Mereka mengikuti workshop pengolahan hasil laut, memasarkan produk hasil lautnya melalui bazar pangan laut segar dan olahan ikan, hingga membagikan suara dari masyarakat pesisir melalui gelar wicara atau talkshow dan “Panggung Suara Pesisir.” Bersamaan dengan itu, dihadirkan pula sejumlah rangkaian kegiatan lainnya, termasuk workshop pengeringan hasil laut berbasis Internet of Things (IoT) serta lomba menggambar dan fotografi bertema laut dan pesisir.

Keterlibatan nelayan, menurut Dekan FTP SCU, Inneke Hantoro, MSc, penting dalam upaya pemberdayaan sosial dan masyarakat. Ia memaknai perlunya peran anggota komunitas pesisir, tidak terkecuali para nelayan, mengingat mereka yang memahami dampak perubahan iklim secara langsung.

“Kami ingin nelayan didengarkan. Mereka bisa bertemu sivitas akademika dan memperlihatkan realitas krisis iklim yang dihadapi sekaligus praktik pengolahan pangan yang sudah dilakukan,” tuturnya. Selain nelayan, kegiatan ini juga diikuti oleh akademisi, masyarakat pesisir, organisasi advokasi, dunia industri, hingga pelajar dan mahasiswa.

Menurut Inneke, perubahan iklim yang salah satunya ditandai dengan naiknya suhu permukaan air, menyebabkan terganggungnya rantai pangan laut, berkurangnya populasi ikan tangkapan, hingga meningkatkan cemaran mikroplastik pada bahan pangan. “Kalau ketahanan pangan laut runtuh, maka kesejahteraan dan masa depan komunitas pesisir juga runtuh,” tegasnya.

Sependapat, Dosen FTP SCU sekaligus Ketua Festival Bahari 2025, Dr. Alberta Rika Pratiwi menilai permasalahan pesisir tidak bisa dilihat sebatas isu perikanan. “Krisis iklim mempengaruhi produksi pangan, ekonomi keluarga nelayan, dan kesehatan masyarakat,” tambahnya.

Merespons hal tersebut, pihaknya juga aktif dalam melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang berkaitan dengan ekologi dan keberlanjutan pangan, termasuk di dalamnya isu plastik maupun mikroplastik. “Kedaulatan pangan laut bukan hanya soal menyediakan ikan, melainkan memastikan laut ‘tetap hidup’ demi kesejahteraan masyarakat pesisir,” tambah Dr. Rika.

Facebook
Twitter
LinkedIn
Email
WhatsApp