Logo Soegijapranata Catholic University (SCU) White
Search...
Close this search box.

Kesatria Zaman Now: Tinggalkanlah “Dhemen Moyoki, Mojoke, lan Magoli” (Part 4)

Oleh: JC Tukiman Tarunasayoga, Pengajar Pascasarjana di UNIKA Soegijapranata, Semarang Ada sekurangnya tiga pola relasi sosial yang menjadikan kita maju mundur, berarti ora maju-maju; yakni  banyak orang yang terpenjara dan justru menjadi kesukaan bersikap lewat dhemen moyoki, mojoke, lan magoli liyan. Mari kita amati baik-baik dan cermat, bagaimana reaksi orang pada umumnya manakala mendengar atau melihat sendiri ada  orang lain… Lanjutkan membaca Kesatria Zaman Now: Tinggalkanlah “Dhemen Moyoki, Mojoke, lan Magoli” (Part 4)

Hari Gini, Bersikap Kuatlah: Aja Cingeng, Cinging, lan Cengeng (Part 3)

Oleh: JC Tukiman Tarunasayoga, Pengajar Pascasarjana di UNIKA Soegijapranata, Semarang  dan UNS Sudah seharusnya, layak, dan sepantasnya, kita yang telah lebih dari dua tahun “dihajar” oleh Covid-19 dengan segala variannya, berpikir dan bersikap yang kuat (taft), bukannya malah berpikir dan bersikap cingeng, cinging, lan cengeng. Tegasnya, hari gini, apa kata dunia kalau kita masih seperti itu, makanya ayolah, aja cingeng, – bacalah cingeng… Lanjutkan membaca Hari Gini, Bersikap Kuatlah: Aja Cingeng, Cinging, lan Cengeng (Part 3)

Setali Tiga Uang: Beler, Clemer, lan Cemer (Part 2)

Oleh: Tukiman Tarunasayoga, Pengajar Pascasarjana di UNIKA Soegijapranata, Semarang  dan UNS Saat saya usia SD-SMP, terutama di tlatah/wilayah kasultanan Ngayojakarta Hadiningrat, sebutan untuk uang satu rupiah ialah sak gelo (bacalah gelo seperti Anda mengucapkan “Gadis itu pintar memainkan cello, sebuah alat musik;” atau Anda mengumpat mengatakan seseorang “bego.” Untuk menyebutkan setengah rupiah, digunakan ungkapan setengah gelo; namun uniknya untuk menyebutkan seprapat… Lanjutkan membaca Setali Tiga Uang: Beler, Clemer, lan Cemer (Part 2)

Setali Tiga Uang: Gidhuh, Kisruh, lan Ribut (Part 1)

Oleh: JC Tukiman Tarunasayoga, Pengajar Pascasarjana di UNIKA Soegijapranata, Semarang   Di masa kanak-kanak saya, -sebutlah di tahun 1950 an- , mata uang seharga satu sen (sepersepuluhnya satu rupiah) masih berlaku untuk/sebagai transaksi jual-beli; bahkan juga ada yang berharga setengah sen. Uang itu berupa uang logam, dan karena banyaknya uang logam itu beredar, ada sebutan khas untuknya,… Lanjutkan membaca Setali Tiga Uang: Gidhuh, Kisruh, lan Ribut (Part 1)

Lamun Bares Mesthi Beres: Dari Kendi Nusantara, Pawang Hujan GPMotor Mandalika, Isu Reshuflle Kabinet

Oleh:  JC Tukiman Tarunasayoga, Pengajar Pascasarjana di UNIKA Soegijapranata, Semarang  dan UNS Ucapkan bares sebagaimana layaknya Anda mengatakan kates, atau pamer(an), atau juga kena gaet; sedangkan untuk kata beres  mengucapkannya seperti “Ia terseret ombak,” atau “Jalan setapak itu becek karena semalam gerimis.” Ketahuilah, ungkapan lamun bares, mesthi beres; sejauh bersih hati(mu),  sejauh itu pula semuanya baik-baik adanya,  adalah ungkapan sangat menentukan kualitas relasi sosial… Lanjutkan membaca Lamun Bares Mesthi Beres: Dari Kendi Nusantara, Pawang Hujan GPMotor Mandalika, Isu Reshuflle Kabinet

Diblithuk Kowe: Muda Kaya Raya, Tua Foya-foya, Mati Masuk Mana?

Oleh: JC Tukiman Tarunasayoga, Pengajar Community Development Planning Dalam kondisi zaman seperti sekarang ini, satu saran paling penting untuk kita semua, ialah “Aja gampang keblithuk, oleh siapa pun dan apa pun omongannya.” Alangkah rentannya diri kita ini manakala gampang keblithuk oleh orang yang mendaku dirinya seorang pendeta, seorang intel, seorang crazy rich, dan lain-lain. Mengapa rentan?… Lanjutkan membaca Diblithuk Kowe: Muda Kaya Raya, Tua Foya-foya, Mati Masuk Mana?