Program Studi Arsitektur Soegijapranata Catholic University (SCU) berupaya menghadirkan ruang untuk mengekspresikan kreativitas dalam mendesain bangunan yang responsif terhadap isu kebencanaan di Indonesia. Komitmen tersebut ditunjukkan melalui penyelenggaraan Pameran, Sayembara, dan Seminar Best of Studio (BoS) “Resilience Architecture” oleh Himpunan Mahasiswa Arsitektur (HIMA) SCU.
Lebih dari 35 tim dari kalangan pelajar SMA/K dan perguruan tinggi serta praktisi saling beradu gagasan dalam merespons potensi terjadinya bencana alam di Indonesia. “Kami ingin menumbuhkan kesadaran sebagai masyarakat yang tinggal di negara yang sangat rentan terhadap bencana alam dengan menghadirkan karya yang mampu merespons kondisi tersebut,” terang Sekprodi Arsitektur SCU, Natalia Suwarno, S.Ars, M.Arch.
Selama 2 bulan, peserta ditantang untuk mendesain hunian darurat bencana sebelum akhirnya dipaparkan dalam External Examination pada Kamis (16/4) di Teater Thomas Aquinas, Kampus 1 SCU Bendan. Ide mereka diuji oleh Dr. Ir. Robert Rianto Widjaja, M.T (Kaprodi Magister Arsitektur SCU), Dr. Ar. Resza Riskiyanto, S.T, M.T, IAI (Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jateng), dan Ar. Yu Sing, S.T (Arsitek sekaligus Founder Akanoma Studio).
Selain untuk merespons kerentanan bencana alam di Indonesia, tema BoS tahun ini menurut Natalia sejalan dengan Pola Ilmiah Pokok (PIP) SCU, pemukiman ekologis (eco-settlement). PIP ini berfokus pada pembangunan manusia, alam, dan bangunan yang berkelanjutan, berwawasan lingkungan, dan peduli pada lingkungan hidup.
Lebih lanjut, PIP ini juga telah diintegrasikan dalam kurikulum pembelajaran. “PIP tersebut kami turunkan dalam setiap mata kuliah, seminar, workshop, hingga kompetisi seperti ini. Tema ini adalah pengembangan dari eco-settlement itu,” sambung Natalia.
Ia juga menambahkan bahwa mahasiswa diajak untuk selalu tanggap bukan hanya terhadap isu lingkungan, melainkan juga sosial dan ekonomi. Pihaknya selalu memberikan pemahaman bagi mahasiswa untuk selalu membuat desain bangunan yang dapat merespons isu-isu tersebut. Namun demikian, desain tersebut juga tidak boleh melepaskan fungsi kelayakan, kenyamanan, dan keamanan.
Hal tersebut juga disoroti dalam Seminar Arsitektur yang diselenggarakan pada Jumat (17/4). Selain Yu Sing, seminar ini juga menghadirkan Ardhya Nareswari, PhD (Akademisi UGM) dan Velicha Elenagaretha Ami, S.Ars (Alumnus Arsitektur SCU). Mereka membahas peran arsitektur dalam mitigasi bencana melalui konsep dan desain bangunan yang adaptif dan antisipatif di lingkungan tangguh.
Kegiatan ini juga menghadirkan sayembara yang dikhususkan untuk proyek tugas akhir dan mata kuliah mahasiswa Arsitektur SCU. Adapun tujuannya untuk mempersiapkan mahasiswa menghadapi dunia profesional sebelum lulus. “Kami mengambil 6 karya terbaik dari tiap semester, kemudian dikerucutkan menjadi 3 karya untuk nantinya dikompetisikan,” ungkap Natalia.









