Seminar Nasional yang diselenggarakan pada Kamis, 4 Maret 2026 menjadi Puncak Rangkaian Perayaan Dies Natalis ke-7 Fakultas Kedokteran (FK) Soegijapranata Catholic University (SCU). Bertempat di Teater Fransiskus Assisi, Kampus 2 SCU BSB, seminar bertajuk “Peran Strategis FK SCU untuk Mengurangi Morbiditas dan Disabilitas Akibat Kusta Menuju Eliminasi 2030” tersebut menunjukkan perhatian fakultas pada isu penyakit kusta yang masih menjadi tantangan kesehatan di Indonesia.
Isu tersebut dibahas oleh dr. Teky Budiawan, MPH (Manajer Program NLR Indonesia) dan dr. Elva Kadarhadi, Sp.DVE (Dosen FK SCU). Keduanya menekankan bahwa upaya eliminasi kusta tidak hanya bergantung pada pengobatan, melainkan juga pada penguatan sistem kesehatan, peningkatan kapasitas tenaga medis, serta pengurangan stigma di masyarakat.
Dalam sampaiannya, dr. Teky menyoroti pentingnya peran pendidikan kedokteran dalam menangani kasus penyakit kusta di Indonesia yang menurut keterangannya masih mencatatkan 15.000-17.000 kasus tiap tahunnya, khususnya di wilayah Timur seperti Papua, Maluku, NTT atau NTB. “Sekarang technical advisor yang biasa memberikan pendampingan kepada pemerintah dan lembaga kesehatan dalam upaya pengendalian, pengobatan, dan eliminasi penyakit kusta sudah mulai sedikit di Indonesia. Maka, peran pendidikan kedokteran menjadi penting untuk menekankan tantangan ini kepada para calon dokter,” tegas dr. Teky yang puluhan tahun berkecimpung dalam penanganan kusta.
Sementara, FK SCU melalui Wakil Dekan Bidang Inovasi, Riset, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Kerja Sama, Perigrinus H. Sebong, MPH, menerima ini sebagai hal yang menarik untuk ditawarkan kepada mahasiswa. “Kami akan mengarahkan para lulusan bisa magang sebagai technical advisor lepra/kusta, karena sekarang kebutuhannya sangat banyak,” tandasnya. Di sisi lain, hal ini menurutnya bukan hanya menunjukkan kontribusi fakultas, melainkan juga mempersiapkan para lulusan untuk menghadapi tantangan kesehatan di Indonesia.
Hal ini pun juga sejalan dengan fokus pihaknya dalam memberikan perhatian pada Penyakit Tropis Terabaikan atau Neglected Tropical Diseases (NTDs), yang salah satunya adalah kusta. “NTDs tidak terlalu ‘seksi’ di level global, dilihat dari anggarannya yang masih sedikit,” terang Perigrinus. Lebih lanjut, seminar ini pun membuka peluang kerja sama riset antara FK SCU dengan NLR Indonesia.
Dosen FK SCU lainnya, Dr. dr. Fransisca P. Hardimarta, M.Si.Med menambahkan bahwa peluang ini sejalan dengan perhatian fakultas pada Daerah Tertinggal, Perbatasan, dan Kepulauan (DTPK). Menurutnya, langkah ini dapat menjadi kontribusi FK SCU dalam menyukseskan Program Eliminasi Kusta 2030 yang diprakarsai oleh World Health Organization (WHO). Ia pun berharap mahasiswa dapat memahami peran strategis pendidikan kedokteran dalam mengurangi morbiditas dan disabilitas akibat kusta. “Pendidikan kedokteran punya peran untuk menyukseskan fokus program, yaitu 0 kasus baru, 0 disabilitas, dan 0 stigma,” lanjut Dr. dr. Fransisca.
Rangkaian Dies Natalis
Sebelum penyelenggaraan seminar, Puncak Rangkaian Dies Natalis diawali dengan Misa Syukur yang dipimpin Rm. Paulus Wiryono Priyotamtama. Mengusung tema “Sustainable Preventive Care and Health Equity for All” (SPERENTIA), Rangkaian Dies Natalis sendiri telah dimulai pada 11 Januari 2026 melalui penyelenggaraan Pengobatan dan Edukasi Kesehatan Gratis bersama Paroki Santo Mikael, Krobokan, Kec. Semarang Barat. Lomba Nasional Poster Kesehatan dan Video Kesehatan juga memeriahkan Rangkaian Dies Natalis secara daring pada 2–27 Februari 2026.
Adapula kegiatan penghijauan di Gedung Santa Clara, Kampus 2 SCU BSB Fakultas pada 5 Maret 2026 sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan Seluruh rangkaian kemudian ditutup dengan “Book Camp” pada 6–7 Maret 2026 di Hotel Griya Persada, Bandungan.









