Perpustakaan SCU Ajak Sivitas Akademika Gunakan AI secara Kritis, Ini Dampaknya jika Dipakai Berlebihan

UPT Perpustakaan Soegijapranata Catholic University (SCU) kembali menyelenggarakan forum rutin bulanan, Talk and Brew di Lib Cafe, Kampus 1 SCU Bendan, Selasa (30/6). Mengusung tema “How AI Eats your Critical Thinking,” forum ini menghadirkan Dosen Fakultas Ilmu Komputer (FIKOM) SCU, Y.B. Dwi Setianto, S.T, M.Cs untuk mengajak dosen dan tenaga kependidikan SCU memahami dampak penggunaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) terhadap kemampuan berpikir kritis (critical thinking).

Potensi dan Risiko

Menurut Setianto, AI sangat berperan dalam meningkatkan efisiensi pekerjaan manusia. Namun demikian, ia juga tidak menampik potensi AI dalam mengurangi proses penalaran manusia bila digunakan secara berlebihan. Hal ini yang ia sebut sebagai ‘ilusi efisiensi,’ di mana kemampuan AI dalam mempercepat pekerjaan manusia juga memberikan konsekuensi dalam mengurangi proses berpikir apabila manusia tidak banyak terlibat.

Ia mencontohkan fenomena yang disebut writer’s block, yang menggeser proses menyusun ide, menciptakan gagasan, melakukan analisis, dan membangun argumen, yang kini sering kali diambil alih oleh AI, sehingga manusia hanya sekedar memodifikasi hasil yang diproduksi mesin. “Jika sebelumnya ide berusaha dikembangkan dari ‘kertas kosong,’ kini AI sering digunakan untuk langsung menghasilkan teks yang kemudian hanya diedit seperlunya,” tutur Setianto.

Menurutnya, kondisi tersebut dapat membuat manusia lebih berfokus pada hasil akhir dibandingkan proses memahami dan mengolah informasi. Proses penalaran yang mulai dialihkan kepada AI ini menurut keterangannya disebut sebagai outsourced reasoning. “Ketika AI terus-menerus digunakan untuk mengambil alih proses tersebut, manusia berisiko kehilangan kebiasaan bernalar secara mandiri,” kata Setianto.

Lanjutnya, dampak tersebut dapat terlihat melalui penurunan berbagai kemampuan kognitif, mulai dari kreativitas, kemampuan berpikir kritis, metakognisi, hingga kemampuan mengingat. Setianto menggambarkan otot kognitif seperti otot tubuh yang akan melemah apabila tidak pernah dilatih. “Ketika AI selalu digunakan untuk menyelesaikan persoalan kompleks, kemampuan berpikir manusia perlahan akan mengalami penurunan,” tegasnya.

Mendukung Kreativitas dan Kemampuan Berpikir

Meski demikian, Setianto menegaskan bahwa AI bukanlah teknologi yang harus dihindari. Sebaliknya, AI perlu ditempatkan sebagai alat bantu yang mendukung manusia dalam berpikir, bukan menggantikannya.

“AI dapat menjadi ‘insinyur’ yang menentukan seluruh arah berpikir manusia, atau menjadi ‘tukang’ yang hanya membantu membangun jalan yang dipilih oleh manusia sendiri. Pilihan tersebut bergantung pada cara setiap individu memanfaatkan teknologi. Menjadi masalah  ketika ketika berhenti berpikir karena AI,” tegas Setianto.

Sejalan dengan itu, ia mengajak dosen dan tenaga kependidikan SCU dalam menggunakan AI secara bijak dan bertanggung jawab. Ia pun menilai AI sebaiknya dimanfaatkan sebagai tool for thought atau alat bantu berpikir untuk memahami persoalan, merumuskan pertanyaan yang lebih baik, serta mengeksplorasi ketidakpastian. “Jadi bukan semata-mata untuk menyelesaikan pekerjaan, mempercepat proses, dan mencari jawaban secara instan,” tambahnya.

Lebih lanjut, Setianto kemudian memperkenalkan pendekatan loop kognisi hibrida. Dalam model ini, manusia terlebih dahulu menyusun kerangka berpikir, AI kemudian memberikan alternatif sudut pandang, setelah itu manusia melakukan evaluasi serta penyusunan ulang argumen sebelum akhirnya menghasilkan pemahaman yang lebih mendalam. Menurutnya, interaksi semacam ini justru meningkatkan kualitas berpikir dibanding menyerahkan seluruh proses kepada AI.

Picture of Humas

Humas