Logo Soegijapranata Catholic University (SCU) White
Search...
Close this search box.

Hotspot Sindemi Rokok dan Sudahi saling Tuding

Oleh: Perigrinus H Sebong, Dosen FK Unika Soegijapranata, anggota NCDI Poverty Network  

ANCAMAN new and emerging tobacco products (NETPs) dalam laporan Epidemi Tembakau Global (ETG) 2021, seperti varian baru saat gencarnya usaha mengerem epidemi rokok. Selain memberi aplaus bagi kemajuan negara-negara mengurangi prevalensi perokok, ETG juga mewanti-wanti Indonesia. Lantas ada apa dengan Indonesia?

Epidemi tak menentu
Dalam artikel mereka di British Medical Journal, Puljevi dkk (2021) menuturkan, Bangladesh dan sembilan negara maju telah mematok target mengakhiri epidemi rokok. Mereka mengklaim, penetapan target endgame tersebut telah melewati sederet kalkulasi presisi sehingga optimistis sanggup mengunci angka prevalensi perokok <5% hingga <1%. Dalam menanggapinya, iktikad Bangladesh ‘bebas rokok’ tahun 2040, patut diapresiasi. Bagaimana tidak? jika disejajarkan dengan Indonesia, sebenarnya untuk urusan rokok kedua negara nasibnya hampir sama. Misalnya, prevalensi perokok periode 2008-2018, kedua negara agak lambat menurun dan juga masih terlilit beban penyakit akibat rokok. Namun, beban sindemi (sinergi dari berbagai epidemi yang ada), akibat co-epidemi rokok dengan epidemi penyakit lainnya, membuat Indonesia sedikit tak menentu. Sebagai contoh, saat ini beban penyakit tidak menular (PTM) misalnya kanker paru, jantung koroner yang punya ‘kekerabatan’ dengan rokok masih eksis, dan di saat yang sama epidemi rokok terus menetap.

Kian menetapnya rokok bisa kita amati dari status epideminya. Menurut Lopez, Collishaw dan Paha (LCP) 1994, status epidemi rokok diketahui dengan menghitung prevalensi perokok (terutama pria); konsumsi rokok; dan kematian akibat rokok, kemudian jika dibandingkan dengan kriteria masing-masing dari empat fase epidemi. Sesuai Riskesdas (2018), saat ini prevalensi perokok pria adalah 62,9%.

Bila memakai kriteria LCP, Indonesia berada di fase kedua epidemi rokok (prevalensi perokok pria 62,9%, berada di antara 50-80%, dan rerata konsumsi rokok 1.000-3.000 batang per orang per tahun). Artinya, sampai sekarang masyarakat masih menganggap merokok tidak berbahaya, perokok baru kian bertambah, dan promosi rokok masih gencar. Jika terus berpangku tangan, dampak epidemi rokok tidak hanya pada klaster penyakit, tetapi juga bisa merambat ke klaster baru lainnya.

Kurang gesit
Dalam mencermati isi laporan ETG, Indonesia termasuk tiga negara di Asia yang namanya disebut-sebut. Bisa dibilang, ini lantaran kita kurang gesit berhadap-hadapan dengan NETPs seperti rokok elektrik. Mengapa?

Pertama dari perspektif commercial determinants of health (CDoH), selain menjadi produsen, Indonesia termasuk hotspot pasar rokok yang tak pernah sepi. Promosi rokok di media sosial (medsos) dan internet seperti trojan horse, perlahan memengaruhi persepsi remaja tentang rokok.

Dari surveinya Septiono dkk (2021), banyak remaja Indonesia tergiur dengan tobacco advertising, promotion and sponsorship (TAPS) karena sering melihat medsos. Sayangnya, belum tampak tindakan preventif konkrit untuk meluputkan mereka dari unhealthy products di medsos. Bila diabaikan, remaja kita bisa menjadi fourth-hand smoke, kaum yang menerima rokok sebagai kelaziman (socially acceptable) karena sering melihatnya.

Kedua, kampanye anti rokok seperti ‘rokok membahayakan kesehatan’ sudah tidak laku dan terkesan tumpul ke atas. Terbukti, tobacco industry interference index kita mendapat nilai merah, lantaran kentalnya konflik kepentingan dalam urusan rokok (GGTC, 2021).

Proporsi kematian yang dapat dicegah atau preventable death tegal rokok mencapai 16,2% dari total kematian. Penyakit katastropik akibat rokok juga mendominasi klaim peserta JKN. Bahkan, naiknya prevalensi perokok remaja mencapai 9,1% melampaui target nasional (5,4%) saat ini, dianggap biasa. Ditambah lagi, ancaman keracunan nikotin atau green tobacco sickness yang ditemukan sekitar 66 % pada petani tembakau di salah satu daerah juga lolos dari perhatian kita.

Holistik dan terukur
Untuk mencermati berbagai momok tersebut, banyak pihak menuding sikap Indonesia tidak meratifikasi Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) adalah penyebabnya. Meskipun dugaan ini belum seratus persen benar, sekarang epidemi rokok menjebak 33,6% perokok dewasa dan 19,4% remaja. Indonesia juga masih berpredikat pasar rokok terbesar kedua di dunia versi Tobacco Free Kids (2021).

Bisa dilihat, sejak 1990-sekarang, permintaan impor tembakau kita naik 40% (Ahsan dkk, 2020). Artinya, rokok sudah seperti kebutuhan pokok sehari-hari yang terus meningkat, seiring bertambahnya perokok baru sehingga bukan mustahil, kita akan menjumpai lebih banyak epidemi akibat rokok. Lalu kita bisa apa?

Pertama, menutup celah bertambahnya remaja jadi perokok baru. Saat ini, kemasan rokok di medsos cukup jitu menggaet remaja karena dibuat lebih kekinian. Hobi swafoto (selfie) dimanfaatkan dengan menyediakan photobooth berlatar merek rokok. Juga beredar hashtag medsos, mengajak remaja untuk mengabadikan momen sponsor rokok dan berbagi dengan temannya. Intinya, kepiawaian produsen melancarkan promosi produk yang merugikan kesehatan (CDoH) harus diwaspadai.

Kedua, menyelamatkan pekerja bukan perokok di tempat kerja. Pelayan restoran di smoking area misalnya, sangat berisiko terpapar stres oksidatif (radikal bebas), akibat sistem ventilasi di tempat kerjanya tidak memadai. Mereka bisa menjadi secondhand smoke dan thirdhand smoke karena tidak bisa menjauhi asap rokok dengan alasan tuntutan pekerjaan.

Ketiga meredam pencemaran ekosistem. Puntung rokok misalnya, yang dibuang sembarangan selain menambah volume sampah, juga mencemari tanah karena filter selulosa asetat non-biodegradable (tidak bisa terurai alami). Mencuatnya temuan dioksin (polutan organik) pada telur melebihi batas aman di Indonesia adalah bukti rantai makanan kita telah tercemar mikroplastik (bioakumulasi). Sebagian rokok elektrik memiliki baterai berbahan kimia, perlu pembuangan khusus. Juga asap rokok menyumbang konsentrasi PM2,5 di udara yang pada pH tertentu sangat toksik.

Hemat penulis, peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia Bulan Mei 2022 bertema Tobacco’s threat to our environment, adalah momentum meredam epidemi rokok klaster lingkungan. Tema ini, ibarat sirine mengajak kita beranjak ke titik kumpul evakuasi. Radius epidemi rokok kini sedang bergerak dari klaster katastropik menuju katastrofe lingkungan. Bukan mustahil beberapa waktu mendatang kita akan tinggal di hotspot sindemi, tempat dimana epidemi rokok, PTM dan pencemaran ekosistem, bersinergi mengancam nyawa dan keberlangsungan lingkungan.

Oleh sebab itu, perlu menambahkan perspektif sindemi yaitu bagaimana faktor sosial, budaya, ekonomi yang berdampak pada morbiditas dan komorbiditas dicermati, untuk menstop sindemi akibat rokok dalam daftar kerja kita. Dengan demikian, kini saatnya kita menyudahi saling tuding perkara rokok antara kubu perokok dan antirokok. Slogan ‘merokok itu soal pilihan’ menurut penulis harus ditinjau kembali dengan kacamata holistik dan terukur, demi keselamatan manusia dan ekosistem. Kita butuh solusi kebijakan yang kreatif dan berkesinambungan sehingga Bumi kita tidak menjadi korban rokok selanjutnya.

# https://mediaindonesia.com/opini/496613/hotspot-sindemi-rokok-dan-sudahi-saling-tuding

Media Indonesia 3 Juni 2022

Tag

Facebook
Twitter
LinkedIn
Email
WhatsApp
Kategori
Nih jawaban buat kalian yang masih bingung benefit beasiswa masuk di SCU dan biaya kuliahnya yang affordable. Kalau udah paham langsung gassss yaa! 

Daftar online
pmb.unika.ac.id 

#BeasiswaKuliah
#PTSTerbaikJawaTengah
#JoyfulCampus
#JoyfulLearning
Selamat merayakan Hari Raya Idul Adha 1445 H ✨

#IdulAdha
#PTSTerbaikJawaTengah
#JoyfulCampus
#JoyfulLearning
Gak usah galau SNBT ah, goyangin aja bareng D”CEMESH yuk 🤭

Daftar online
pmb.unika.ac.id

#BeasiswaKuliah
#PTSTerbaikJawaTengah
#JoyfulCampus
#JoyfulLearning
Mau punya dosen asik - asik + suasana kuliah yang joyful? Yuk, buktikan sekarang!

Daftar online
pmb.unika.ac.id

#PTSTerbaikJawaTengah
#JoyfulCampus
#JoyfulLearning
Namanya proses ada aja lika likunya, tapi jangan sampai salah pilihan, karna hanya SCU yang nyenengin ☺️ 

Daftar online
pmb.unika.ac.id

#BeasiswaKuliah
#PTSTerbaikJawaTengah
#JoyfulCampus
#JoyfulLearning
Hola ✨ yuk manfaatkan kesempatan mendapatkan Beasiswa Christian Youth di SCU. 

Daftar online
pmb.unika.ac.id

#BeasiswaKuliah
#PTSTerbaikJawaTengah
#JoyfulCampus
#JoyfulLearning
Kuliahnya seasik ini di @dkvscu, tempat yang tepat buat explore kreativitasmu 🫰

Daftar online
pmb.unika.ac.id

#DKV
#PTSTerbaikJawaTengah
#JoyfulCampus
#JoyfulLearning
This error message is only visible to WordPress admins
There has been a problem with your Instagram Feed.

Share:

More Posts

Send Us A Message