Peran Strategis Pendidikan Ekologis

Oleh: DR. Aloys Budi Purnomo Pr, Pengajar Program Doktor llmu Lingkungan Unika Soegijapranata

BILA tidak ada perubahan jadwal, direncanakan, Presiden Jokowi, akan hadir dan memberikan orasi ilmiah dalam upacara Dies Natalis ke-40 Unika Soegjapranata di Kampus BSB Semarang (Sabtu, 6/8). Topik yang hendak disampaikan adalah tentang peran strategis pendidikan tinggi menuju Indonesia unggul 2045.

Melalui opini ini, saya ingin memberikan kontribusi tentang peran strategis pendidikan dengan visi ekologis.

UNESCO menerbitkan buku berjudul Reimagining Our Futures Together, A New Social Contract for Education (UNESCO, 202 1).

Ditegaskan bahwa kemanusiaan kita dan planet Bumi sedang terancam krisis ekologi dengan berbagai indikasi, gejala, dan dampaknya. Salah satu dampak yang masih dirasakan adalah terjadinya pandemi Covid-19. Panderni tersebut juga membuktikan kerapuhan kita dan keterhubungan kita satu terhadap yang lain.

Dalam kesadaran itu, tindakan mendesak dan harus diambil bersama-sama sangatlah diperlukan untuk mengubah arah dan menata kembali pendidikan kita. Dalam konteks ini, kita menghadapi tantangan ganda. Di satu sisi, harus dipastikan bahwa hak atas pendidikan berkualitas bagi setiap anak, remaja dan dewasa terpenuhi. Di sisi lain, harus disadari adanya potensi transformasi pendidikan sebagai rute untuk masa depan kolekfif yang berkelanjutan.

Kontrak soslal baru
Menghadapi tantangan ganda tersebut, kita memerlukan kontrak sosial baru bagi pendidikan yang dapat memperbaiki ketidakadilan sekaligus mengubah masa depan yan€ lebih baik bagi generasi mendatang. Kontrak sosial tersebut didasarkan pada hak dasar manusia berdasarkan prinsip non-diskriminasi, keadilan sosial, penghormatan terhadap martabat kehidupan manusia, keragaman budaya, serta keutuhan ciptaan dan kelestarian lingkungan. Tercakup di dalamnya adalah etika kepedulian, kesadaran timbal batik saling membutuhkan, dan solidaritas global. Prinsip-prinsip tersebut memiliki peran strategis sebagai usaha publik demi terwujudnya kebaikan bersama.

Untuk itu, UNESCO menyerukan komitmen baru demi kolaborasi global dalam mendukung pendidikan sebagai kebaikan bersama, yang didasarkan pada kerja sama yang lebih adil dan merata di antara aktor negara dan non-negara di tingkat lokal, nasional, dan internasional (UNESCO, 2021:136).

Berpartisipasi
Tujuannya adalah mengasah kecerdasan manusia dan potensinya untuk tindakan kolektif demi kesejahteraan. Membangun dunia yang makmur, adil, berkelanjutan, dan damai mengharuskan kita semua, terlepas dari asal usul, budaya dan kondisinya, berpartisipasi dalam pendidikan berkualitas di seluruh rentang hidup mereka.

Karenanya, akses ke pendidikan dan pembelajaran formal perlu dilengkapi dengan akses yang adil terhadap pengetahuan dan informasi yang benar dan seimbang di tengah maraknya viralitas hoax yang menyesatkan dan memecah belah warga bangsa. Untuk itu, setiap orang membutuhkan akses digital yang mencerdaskan. Dengan demikian, siapa saja dapat berpartisipasi secara sadar dan aktif dalam membentuk dan mengelola masa depan hidup bersama yang adil dan beradab.

Maka, pendidikan perlu diubah dengan kerjasama dan solidaritas, menggantikan mode eksklusi dan kompetisi individualistis. Pendidikan semestinya menumbuhkan empati dan kasih sayang. Dengannya, pendidikan membangun kapasitas individu untuk mampu bekerja sama dengan saling menghargai keberagaman. Terpenting dari semua ini adalah terbangunnya kesadaran bahwa semua saling terhubung.

Visi ekologis
Dalam kesadaran itulah peran strategis penlidikan dengan visi ekologis untuk generasi masa depan dapat ditempatkan. Visi ekologis pendidikan dibangun dalam kesadaran akan asal kita bersama dan bahwa satu terhadap yang lain saling memiliki kepekaan untuk saling peduli. Kesadaran mendasar ini memungkinkan pengembangan keyakinan, sikap, perilaku, dan bentuk kehidupan yang baru yang lebih ramah dan peduli kepada sesama dan semesta.

Menuju tahun 2045 (UNESCO bahkan memandang hingga tahun 2050), pendidikan kita perlu memprioritaskan prinsip-prinsip saling keterkaitan, saling ketergantungan, dan pentingnya solidaritas. Visi ekologis pendidikan akan meruntuhkan tembok sosial dan sektoral yang mengabaikan keberagaman dan menumbuhkan sikap saling menghormati perbedaan.

Visi ini juga mendobrak egoisme kolektif yang dicirikan oleh sikap dan perilaku manusia pada keterpusatan akan dirinya dan menutup diri dalam pikirannya sendiri. Bahkan, egoisme ini menumpulkan kepekaan sejati akan kesejahteraan umum.

Meminjam harapan Earth Charter (Piagam Bumi, 29 Juni 2000), visi ekologis pendidikan memberi ruang bagi semua pihak untuk meninggalkan masa penghancuran diri dan memulai suatu masa baru bagi penghormatan kehidupan yang berjuang demi keadilan, perdamaian, serta perayaan kehidupan yang penuh sukacita. Indikatornya adalah tumbuhnya kepedulian terhadap sesama dan alam semesta, kerelaan melindungi sesuatu demi kebaikan bersama, dan kemampuan mencegah penderitaan atau kerusakan dalam lingkungan kita.

Kita syukuri dewasa ini, kaum muda memiliki kepekaan ekologis baru yang murah hati. Bahkan, mereka membuat upaya dibesarkan dalam lingkungan yang sangat konsumtif. Akibatnya, mereka sulit untuk mengembangkan kebiasaan dan cara hidup dengan visi ekologis sebagaimana sudah dljelaskan. Namun persis inilah tantangan pendidikan kita!

#Tribun Jateng 5 Agustus 2022 hal. 2

Facebook
Twitter
LinkedIn
Email
WhatsApp
Kategori

Share:

More Posts

Send Us A Message