Tim Kedaireka Unika Soegijapranata Meningkatkan Penjualan Batik Lasem dengan Metaverse

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud) membangun suatu platform Kedaireka yang bertujuan untuk membangun kerjasama antara perguruan tinggi dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI). Salah satu Tim Kedaireka Unika Soegijapranata saat ini sedang proses pengembangan kanal penjualan Batik Lasem melalui metaverse. Tim Kedaireka tersebut beranggotakan Prof. Dr. Ridwan Sanjaya, Dr. Theresia Dwi Hastuti, dan Freddy Koeswoyo, M.Si.

Pada kesempatan ini Tim Kedaireka Unika Soegijapranata bekerjasama dengan CV. Kidang Mas Anugrah Semesta, Rembang, Jawa Tengah, yang memproduksi batik Lasem. Menurut Ridwan, adanya pandemi dan beberapa orang yang mengurangi frekuensi untuk bertemu langsung tentunya akan berdampak pada ekonomi sektor manapun, salah satunya penjualan Batik Lasem ini.

“Sebetulnya CV. Kidang Mas Anugrah Semesta salah satu dunia usaha yang ada di daerah sana, tetapi kebetulan di sana itu masyarakatnya guyub. Jadi meskipun satu yang menginisiasi kerjasamanya, tetapi ini sebetulnya bisa dimanfaatkan bersama bagi pelaku di sana,” tuturnya.

Ridwan juga menyampaikan apabila kerja sama ini bukanlah hal yang pertama dilakukan. Sepuluh tahun terakhir, timnya sudah sempat berkegiatan bersama dengan kelompok perajin Batik Lasem dan koperasi Batik Lasem. Kerja sama yang dilakukan terkait digitalisasi untuk pemasaran, pengelolaan keuangan, sampai dengan transaksi penjualan. Maka rencana pengembangan kanal metaverse terkait kegiatan pameran, pemasaran, sampai dengan transaksi, menjadi bagian dari kelanjutan kerja sama yang sudah ada sebelumnya.

Namun hal yang mendasari pemilihan topik metaverse yakni adanya bagian dari rekam jejak tim peneliti yang berasal dari program studi Sistem Informasi dan Akuntansi di Unika Soegijapranata. Ditambah mata kuliah terkait dengan metaverse ada dalam kurikulum di program studi Sistem Informasi dan Akuntansi di Unika Soegijapranata.

“Jadi penelitian ini juga melibatkan mahasiswa, entah dari sisi tenaga atau program. Dan menariknya, kebetulan mahasiswa-mahasiswa yang terlibat ini merupakan mahasiwa bimbingan skripsi dengan saya. Jadi nantinya mahasiswa ini ketika mengerjakan skripsi tidak sekedar hanya membayangkan, akan tetapi bisa langsung merealisasikan, solve problem, dan create solutions,” pungkasnya.

Adapun beberapa tahapan untuk menunjang kematangan Kedaireka ini, Ridwan dan timnya sempat mengadakan Forum Grup Discussion (FGD) bersama masyarakat daerah Lasem di Rumah Merah Heritage Lasem.

“FGD ini bertujuan agar masyarakat sana dapat gambaran mengenai Metaverse ini. Dan kami juga menggali mereka mengenai apa saja yang dibutuhkan, apakah mereka berminat dengan solusi yang kami berikan, nah, Puji Tuhan mereka sangat berminat,” tuturnya

“Tetapi kami juga punya beberapa tahapan sebelum semuanya jadi, seperti workshop yang akan kami adakan. Nantinya workshop ini berguna agar perajin batik terbiasa dengan dunia metaverse ini,” lanjutnya.

Dalam penelitian ini, Ridwan menjelaskan pula peran metaverse tersebut nantinya dapat dinikmati banyak masyarakat, baik dari dalam pulau maupun luar pulau. Sebab hanya dengan internet atau secara virtual semua masyarakat bisa mengetahui Batik Lasem. Hal ini terkait immersive technology yaitu augmented reality, virtual reality, dan hologram.

“Karena pendekatan-pendekatan dulu sifatnya masih dua dimensi. Sementara dengan immersive technology itu bisa melihat secara utuh tiga dimensi, bahkan serasa kita ada di depannya. Tentu saja hal ini tidak hanya untuk nasional, tapi juga bisa dipakai untuk tingkat internasional juga karena sama-sama menggunakan media internet. Harapannya dengan menggunakan metaverse, kita bisa mengundang, bisa bikin event, dan orang-orang yang dari luar bisa mengunjung untuk melihat produk-produk Batik Lasem,” jelasnya. (Dim)

Facebook
Twitter
LinkedIn
Email
WhatsApp
Kategori

Share:

More Posts

Send Us A Message