Kuliah Umum FK SCU Bahas Tantangan Penanganan Infeksi Dengue di Indonesia, Persiapkan Penerjunan Mahasiswa di DTPK

Tantangan penanganan infeksi dengue menjadi bahasan Akademisi UGM, Prof. dr. Eggi Arguni, Sp.A(K), M.Sc, Ph.D dalam Kuliah Umum “Kualitas dan Tantangan Tatalaksana Infeksi Dengue di Indonesia” yang diselenggarakan Fakultas Kedokteran (FK) Soegijapranata Catholic University (SCU) di Teater Fransiskus Assisi, Kampus 2 SCU BSB, Selasa (7/7).

Isu ini menurut Dekan FK SCU, dr. Edward Hartono, MARS sangat relevan mengingat Indonesia merupakan negara beriklim tropis, yang turut menghadapi tingginya angka penderita dengue. “Mahasiswa nantinya akan menjalani co-ass, internship, sampai mengabdi di berbagai daerah, khususnya Daerah Terpencil, Perbatasan, dan Kepulauan (DTPK) di Indonesia yang juga menjadi perhatian kami. Di mana pun pasti akan bertemu penyakit ini, sehingga mereka perlu pengetahuan yang lebih dalam tentang dengue,” katanya.

Data yang dipaparkan Prof. Eggi menunjukkan dengue masih menjadi salah satu tantangan kesehatan terbesar di Indonesia. Meski angka kematiannya menunjukkan penurunan pada 2025, kasus dengue menurut Prof. Eggi masih terhitung tinggi dan cenderung mengalami siklus yang sulit diprediksi.

“Dengue itu sangat unik, mulai dari bagaimana kita menegakkan diagnosis, melakukan tata laksana, sampai pencegahannya. Tidak hanya berkaitan dengan klinisi yang menangani pasien, tetapi juga sangat terkait dengan surveillance system dan kebijakan pemerintah,” kata Prof. Eggi.

Ia menjelaskan bahwa tantangan terbesar dalam penanganan dengue di Indonesia dimulai dari proses diagnosis. Gejala awal yang sering kali tidak spesifik dan menyerupai berbagai penyakit demam lainnya menyebabkan keterlambatan diagnosis. “Tenaga kesehatan harus memahami waktu yang tepat dalam menggunakan pemeriksaan penunjang agar tidak terjadi diagnosis yang keliru,” pungkas Prof. Eggi.

Selain itu, keterbatasan fasilitas kapasitas diagnostik dan layanan di fasilitas kesehatan serta belum optimalnya sistem rujukan juga masih menjadi tantangan lain. Padahal penggunaan pemeriksaan penunjang, seperti Rapid Diagnostic Test (RDT), dapat menghasilkan hasil pemeriksan yang lebih akurat.

Di sisi lain, ada 4 serotipe virus dengue yang menyebar bersamaan di Indonesia. Hal ini diperparah dengan pengaruh perubahan iklim yang turut berperan dalam peningkatan kasus dengue. Menurut Prof. Eggi, kenaikan suhu dan perubahan pola curah hujan mempercepat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti yang membawa virus penyakit ini, sehingga memperluas wilayah penyebarannya.

Bersamaan dengan itu, pemahaman masyarakat tentang penyakit ini masih terhitung rendah. “Kepercayaan terhadap pengobatan tradisional tanpa segera mencari pertolongan medis dapat menyebabkan pasien datang ke rumah sakit dalam kondisi yang sudah kritis,” tambah Prof. Eggi.

Berbagai upaya pencegahan pun telah dikembangkan, mulai dari pemberantasan sarang nyamuk hingga vaksin dengue. Namun demikian, Prof. Eggi menegaskan bahwa tidak ada satu solusi tunggal untuk mengatasi penyakit ini. Ia mengingatkan bahwa pengendalian dengue tidak cukup hanya mengandalkan fogging atau pemberantasan sarang nyamuk. “Target zero dengue deaths 2030 yang dicanangkan oleh Kemenkes RI hanya bisa dicapai apabila pengendalian vektor, vaksinasi, tata laksana klinis, surveillance system, dan partisipasi masyarakat berjalan secara terintegrasi,” katanya.

Picture of Humas

Humas