
Soegijapranata Catholic University (SCU) resmi menjalin kerja sama dengan Yayasan Insan Sekolah Kasih (YISK). Kerja sama ini tertuang dalam Nota Kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) yang ditandatangani Rektor SCU, Ir. Robertus Setiawan Aji Nugroho, S.T, M.Comp.IT, Ph.D bersama Ketua Pengurus Yayasan Insan Sekolah Kasih, Joseph Indra Suryajaya.
Berlangsung di Gedung Mikael, Kampus 1 SCU Bendan pada Selasa (9/6), penandatangan turut disaksikan Wakil Rektor Bidang Pengembangan dan Kerja Sama SCU, Dr. dr. Gregorius Yoga Panji Asmara, S.H, M.H. Hadir pula perwakilan YISK, yaitu Santoso Soegiarto (Pengawas), Ratna Tusita dan Harsono (Anggota Pengurus), A. Hartanti Nugraheni. Fransisca Sri S., serta Ani Andayani (Tim Pelaksana).
Ruang Lingkup dan Implementasi Kerja Sama
Fokus pada Tri Dharma Perguruan Tinggi. Kerja, kerja sama ini bertujuan memperkuat pengembangan pendidikan Katolik yang berdampak melalui sinergi antara lembaga pendidikan tinggi dan organisasi penggerak pendidikan. Kerja sama ini pun diharapkan dapat semakin memperkuat pelayanan kedua belah pihak kepada sekolah-sekolah dan lembaga pendidikan Katolik.
Selain karena telah lama bekerja sama sebelumnya, hal ini dimungkinkan mengingat YISK mempunyai akar sejarah yang dekat dengan gerakan pendidikan di Kevikepan Semarang dan Keuskupan Agung Semarang (KAS). āKami berharap seluruh unsur sekaligus sumber daya kampus bisa terlibat dalam mendukung pengembangan pendidikan Katolik yang lebih baik ke depannya,ā harap Robertus.
Adapun ruang lingkup kerja sama mencakup pengembangan guru, transformasi kepemimpinan sekolah, penguatan karakter dan kepemimpinan siswa, pemberdayaan orang tua, hingga kerja sama komunikasi publik dan promosi sekolah Katolik. Dalam implementasinya, dosen SCU akan terlibat sebagai narasumber, fasilitator, mentor, maupun advisor akademik. Mahasiswa juga didorong untuk berpartisipasi sebagai relawan dalam berbagai program, termasuk pengembangan media sosial sekolah mitra.
YISK dan Programnya
Dalam sambutannya, Joseph menjelaskan bahwa YISK lahir dari semangat Tim Peduli Pendidikan (TPP) Kevikepan Semarang yang dibentuk untuk mendampingi sekolah-sekolah Katolik yang mengalami tantangan, termasuk sekolah yang terancam tutup. āYISK pada dasarnya adalah alat untuk mendukung karya pendidikan Gereja agar dapat bekerja sama dengan berbagai pihak di luar gereja demi pengembangan pendidikan yang lebih luas,ā jelasnya.
Ia turut memperkenalkan 5 program utama YISK pada 2026, yaitu Teacher Growth and Transformation, School Leadership Camp & Impact Grant, Youth Leadership, KANTINKU (Kantin SekolahKu), serta program Pemberdayaan Orang Tua.
School Leadership Camp telah berjalan hingga 5 angkatan dan melibatkan kepala sekolah maupun calon kepala sekolah dari berbagai keuskupan di Indonesia. Program ini berfokus pada penguatan kepemimpinan transformasional melalui pelatihan bertahap dan pendampingan implementasi di sekolah masing-masing.
Ada pula Youth Leadership yang dikembangkan untuk memperkuat kepemimpinan siswa dan membangun budaya damai di lingkungan sekolah. Program tersebut sebelumnya bekerja sama dengan organisasi internasional dan kini dilanjutkan bersama berbagai mitra nasional. āAwalnya program ini fokus pada pencegahan bullying, tetapi berkembang menjadi ruang penguatan leadership siswa. Anak-anak yang sebelumnya tidak percaya diri kini mampu menjadi mentor bagi teman-temannya,ā jelas Joseph.









