
Soegijapranata Catholic University (SCU) berpeluang menjadi salah satu destinasi pendidikan bagi mahasiswa dari kawasan Afrika Timur. Peluang tersebut dibahas dalam diskusi bersama Nexus Centre for Research and Innovation (NCRI) di Gedung Mikael, Kampus 1 SCU Bendan, Selasa (23/6). CEO NCRI, Maiga Ayub Hussein berdiskusi bersama Wakil Rektor Bidang Pengembangan dan Kerja Sama, Dr. dr. Gregorius Yoga Panji Asmara, S.H, M.H beserta International Undergraduate Program (IUP) SCU.
Berdiri pada 2023, NCRI yang merupakan lembaga dengan fokus pada pengembangan penelitian, inovasi, hingga pendidikan internasional, mempunyai jaringan luas di sejumlah negara di Afrika Timur. Beberapa di antaranya seperti Uganda, Kenya, Tanzania, Rwanda, Burundi, dan Republik Demokratik Kongo.
Jejaring pun dibangun untuk memperkuat kerja sama antar institusi di Afrika dan seluruh dunia, tidak terkecuali Asia, termasuk Indonesia. Berbasis di Uganda, salah satu fokusnya yakni membantu mahasiswa maupun peneliti dalam memperoleh akses terhadap beasiswa internasional melalui jejaring kerja sama Afrika dan Asia guna mendukung riset bersama.
”Kami memulainya dengan capacity building, mentorship, hingga mahasiswa dan peneliti bisa memperoleh beasiswa. Kesempatan yang ditawarkan mulai dari mobilitas mahasiswa dan riset serta kerja sama aktif sekolah dan perguruan tinggi,” kata Ayub. Lebih lanjut, pihaknya menargetkan setidaknya 12 hingga 15 mahasiswa untuk mengikuti program pendidikan internasional setiap tahunnya.
Menanggapi peluang tersebut, Direktur IUP SCU, Peter Ardhianto, S.Sn, M.Sn, Ph.D menjelaskan pihaknya membuka kesempatan bagi mahasiswa internasional untuk menempuh studi di kampusnya. Lebih lanjut, sejumlah program studi di kampusnya telah mendukung pembelajaran dengan Bahasa Inggris bagi mahasiswa internasional.
Mahasiswa tersebut nantinya direncanakan akan menempuh studi di 5 program kelas internasional, yaitu Food Technology and Innovation, Big Data Analytics and AI, Global Architecture, Visual Interactive Design, dan International Accounting. Kelima program IUP tersebut diselenggarakan penuh dengan Bahasa Inggris dan didukung dengan program internasional lainnya, seperti pertukaran mahasiswa, double degree, joint degree, hingga fast track.
Namun demikian, Peter menjelaskan pihaknya tidak menutup kemungkinan mahasiswa bisa mengambil program S2 maupun S3 di SCU berikut jejaring perguruan tinggi mitranya. “Kami membuka kemungkinan bagi mahasiswa internasional untuk bergabung dalam program magister (S2) dan doktor (S3) yang sepenuhnya juga diselenggarakan dengan Bahasa Inggris,” terangnya.
Pemilihan SCU menurut keterangan Ayub dilatarbelakangi oleh sejumlah keunggulan yang menjadikannya menarik bagi mahasiswa Afrika. Di samping biaya pendidikan dan hidup yang dinilai kompetitif, persamaan pembangunan dengan banyaknya negara berkembang di Afrika menjadi daya tarik. Dengan demikian, pengetahuan yang dipelajari akan lebih mudah dipelajari sekaligus diharapkan ketika mahasiswa kembali ke negaranya.
“Contohnya ketika mahasiswa belajar bagaimana mengelola pertanian atau memanfaatkan sumber daya lokal, kondisinya bisa disebut hampir sama dengan yang ada di Afrika. Pengetahuan itu bisa lebih mudah diterapkan ketika dibawa pulang,” jelas Ayub.
Selain itu, pertemuan tersebut juga membahas peluang kerja sama di bidang penelitian dan pengabdian masyarakat. “Kami telah banyak membantu berbagai perguruan tinggi mencari peluang hibah penelitian yang sesuai, mulai dari mempersiapkan proposal penelitian hingga mendukung proses publikasi hasil risetnya. Peluang itu kami lihat ada bersama perguruan tinggi di Indonesia, termasuk SCU,” tutup Ayub.









