Kartu tarot selama ini sering dipersepsikan oleh masyarakat sebagai alat untuk meramal masa depan. Praktik membacanya pun kerap kali diidentikkan dengan hal-hal mistis atau ghaib. Pandangan tersebut semakin menguat melalui berbagai film, cerita populer, hingga praktik ramalan yang berkembang di masyarakat.
Sebaliknya, kartu ini dipahami secara berbeda dalam perspektif ilmu psikologi, yaitu media refleksi diri dan alat bantu dalam proses konseling. Hal ini dijelaskan Dosen Fakultas Psikologi (FPsi) Soegijapranata Catholic University (SCU), Patrick Yessandro Pristantyo, S.Psi, M.Psi, Psikolog dalam Forum “Talk and Brew” yang diselenggarakan UPT Perpustakaan SCU pada Jumat, 27 Maret 2026 di Lib Cafe, Kampus 1 SCU Bendan.
“Tarot sebenarnya lebih pada seni membaca kepribadian melalui gambar. Gambar tersebut bisa menjadi cerminan apa yang sedang dirasakan seseorang saat ini,” jelas Patrick.
Menurut keterangannya, gambar dalam kartu tarot dapat menjadi refleksi kondisi batin seseorang pada saat tertentu yang berkaitan dengan perasaan, pengalaman, maupun persoalan yang sedang dihadapi. Simbol-simbol tersebut membantu memancing percakapan dan refleksi diri, sehingga sering digunakan sebagai media dalam proses konseling.
Lebih lanjut, Patrick menambahkan bahwa pandangan tersebut dapat dijelaskan melalui teori psikologi analitik yang diperkenalkan oleh Carl Jung. Teori tersebut memandang bahwa alam bawah sadar manusia menyimpan berbagai memori dan simbol yang dapat direpresntasikan melalui gambar.
Hal ini pun bertentangan dengan anggapan bahwa kartu tarot merupakan alat untuk meramalkan masa depan. “Pengaruh budaya serta cara penyajian yang dramatis lewat simbol-simbol spiritual sering kali membuat tarot dipandang memiliki unsur magis,” tandas Patrick.
Namun demikian, Patrick menekankan bahwa kartu tarot ini termasuk dalam pseudoscience, yaitu pendekatan yang tidak bersifat pasti secara ilmiah. Karena itu, tarot sebaiknya tidak dijadikan sebagai patokan utama dalam mengambil keputusan hidup. “Yang terpenting fokusnya bukan pada kartu yang didapat, melainkan merefleksikan diri sendiri,” tambah Patrick.
Talk and Brew
Wakil Rektor Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Alumni SCU, Prof. Dr. Berta Bekti Retnawati, SE, M.Si menjelaskan bahwa Forum “Talk and Brew” menjadi upaya pihaknya dalam menghidupkan suasana interaktif di perpustakaan. Melalui kegiatan ini, ia pun berharap perpustakaan dapat menjadi ruang berbagi pengetahuan dan dialog akademik yang santai, interaktif, dan edukatif bagi sivitas akademika di lingkungan kampus.
“Forum ini hadir setidaknya sebulan sekali dengan memberikan ruang bagi para dosen membagikan keilmuan dan kepakarannya kepada sivitas akademika, agar kebermanfaatannya pun bisa lebih dirasakan,” tandasnya dalam sambutan.









