Konflik di kawasan Timur Tengah yang kian memanas sejak awal 2026 memicu kekhawatiran global. Ketegangan geopolitik ini tidak hanya berdampak pada stabilitas di kawasan tersebut, melainkan juga mengguncang perekonomian dunia, khususnya melalui kenaikan harga minyak.
Hal ini menurut Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Soegijapranata Catholic University (SCU), Prof. Dr. Berta Bekti Retnawati, S.E, M.Si disebabkan oleh terganggunya distribusi perdagangan dunia di Selat Hormuz. “Sekitar 20% perdagangan minyak itu lewat sana. Ketika ada perang, rute perdagangan berubah dan menimbulkan biaya yang lebih mahal karena harus rute baru menjadi lebih jauh,” terangnya dalam Forum “Talk and Brew” di Lib Cafe, Kampus 1 SCU, Jumat (17/4).
Lebih lanjut, Prof. Berta menjelaskan bahwa dampak konflik tersebut semakin dirasakan masyarakat meskipun terjadi jauh dari Indonesia. Dampaknya menurut Prof. Berta telah mendorong peningkatan biaya produksi dan harga produk di berbagai sektor pasar. Adapun salah satunya yaitu industri plastik. “Harga minyak yang tinggi akan mempengaruhi banyak hal. Biaya produksi, transportasi, distribusi, semuanya naik. Termasuk plastik, karena itu turunan dari minyak,” lanjut Prof. Berta.
Di samping itu, ketergantungan Indonesia terhadap impor energi, obat-obatan, dan bahan baku industri turut memperbesar tekanan ekonomi. Gejolak global ini juga berdampak pada nilai tukar rupiah dan stabilitas nasional. “Nilai dolar yang semakin menguat berpengaruh karena perdagangan internasional Indonesia masih banyak menggunakan dolar. Dampaknya ke APBN pun besar,” kata Prof. Berta.
Namun demikian, ia menyebut bahwa kondisi inflasi Indonesia masih relatif terkendali. Kebijakan pemerintah dalam menjaga stabilitas harga minyak serta upaya mencari sumber alternatif energi melalui kunjungan internasional dinilai efektif dalam meredam tekanan ekonomi. “Inflasi kita masih sekitar 3%. Target kira 2,5% plus minus 1, jadi masih dalam batas aman,” lanjutnya.
Ia pun menekankan pentingnya melakukan diversifikasi sumber energi, perluasan pasar ekspor non-tradisional, dan strategi diplomasi untuk memperkuat ekonomi nasional. Di sisi lain, ia juga melihat peluang dari sektor UMKM dan ekonomi kreatif sebagai kekuatan alternatif dalam menjaga ketahanan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.
“UMKM itu sebenarnya punya potensi besar. Kita juga harus percaya diri sebagai negara besar dengan sumber daya melimpah. Tantangannya adalah bagaimana memanfaatkan hal tersebut untuk membuka peluang baru di tengah situasi global yang tidak stabil,” tegas Prof. Berta.
Menurutnya, perguruan tinggi punya peran penting dalam memberikan pemahaman dinamika global ini kepada sivitas akademika. Forum gelaran Perpustakaan SCU ini memberikan ruang diskusi interaktif untuk memahami keterkaitan antara konflik global dan kondisi ekonomi nasional secara lebih komprehensif. “Meski terjadi jauh di sana, dunia saat ini saling terhubung. Dampaknya tetap kita rasakan, termasuk di Indonesia,” tambah Prof. Berta.









