Angkat Konsep Hunian Tanggap Banjir, Mahasiswa FAD SCU Raih Juara 2 Sayembara Arsitektur Gelaran IAI Jateng

Berangkat dari keprihatinan terhadap tingginya korban dan kerusakan hunian saat bencana banjir, Tim Mahasiswa Program Studi Arsitektur, Fakultas Arsitektur dan Desain (FAD), Soegijapranata Catholic University (SCU), mengembangkan konsep hunian tanggap bencana. Inovasi tersebut menghantarkan tim yang beranggotakan Neysya Hartono, Jennifer Purnomo, dan Novita Masitoh itu meraih Juara 2 dalam Sayembara Best of Studio (Bos) 2026. Mengusung tema “Resilience Architecture,” sayembara yang juga diramaikan pameran dan sayembara tersebut diselenggarakan Program Studi Arsitektur SCU melalui Himpunan Mahasiswa Arsitektur (HIMA) bersama Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jawa Tengah di Gedung Thomas Aquinas, Kampus 1 SCU Bendan, Kamis (16/4).

Alih-alih berfokus pada upaya menghilangkan risiko banjir sepenuhnya, Neysya, Jennifer, dan Novita memilih pendekatan yang menempatkan keselamatan penghuni hunian sebagai prioritas utama. Mereka merancang hunian sementara dengan sistem pondasi menggunakan puing bronjong dan konstruksi panggung yang memungkinkan bangunan tetap berfungsi saat banjir terjadi serta memberikan waktu lebih panjang bagi penghuni untuk melakukan evakuasi.

“Tidak ada desain yang benar-benar dapat menghalau bencana, maka kami lebih berfokus untuk membuat hunian sementara yang memberi waktu lebih dalam proses evakuasi ketika banjir atau bencana alam lainnya terjadi, sehingga dapat mengurangi korban meninggal karena tidak sempat evakuasi,” jelas Novita.

Konsep tersebut lahir dari pengamatan mereka terhadap berbagai peristiwa banjir yang kerap terjadi di Indonesia. Menurut mereka, banyak korban jiwa muncul bukan hanya karena besarnya bencana, tetapi juga karena terbatasnya waktu yang dimiliki masyarakat untuk menyelamatkan diri. Di sisi lain, banyak rumah yang tidak dirancang untuk menghadapi kondisi lingkungan tempat mereka berdiri.

“Kami melihat banyak berita ketika bencana terjadi, banyak sekali korban yang tidak punya waktu untuk mengevakuasi diri, selain itu rumah-rumah mereka juga menjadi runtuh. Ada hal lain lagi yang kami lihat, di mana gaya rumah sekarang banyak yang kurang sadar akan alam yang mereka tinggali, sehingga tanpa sadar kita juga menjadi penyebab bencana terjadi secara langsung,” ungkap mereka.

Selain memperhatikan aspek keselamatan, desain yang mereka usulkan juga mempertimbangkan pemulihan kehidupan masyarakat setelah bencana. Hunian tersebut dirancang agar mampu mendukung keberlangsungan aktivitas penghuni, baik dari sisi sosial maupun ekonomi, sehingga proses pemulihan pasca bencana dapat berlangsung lebih cepat.

“Dalam sayembara ini kami mendesain bangunan yang dapat beradaptasi, bertahan, dan pulih secara mandiri dari bencana banjir. Fokus kami tidak hanya pada aspek infrastruktur, tetapi juga ekonomi serta keberlangsungan kehidupan penghuni yang terdampak bencana,” ujar tim.

Proses pengembangan desain berlangsung selama kurang lebih dua bulan. Selama itu, mereka melakukan berbagai riset terkait struktur bangunan, material, hingga sistem konstruksi yang mampu mendukung konsep ketahanan terhadap bencana. Tantangan semakin besar karena beberapa gagasan yang mereka kembangkan belum memiliki contoh implementasi yang dapat dijadikan acuan.

“Karena ide yang kami desain ini muncul dari pemikiran kami, beberapa belum ada bentuk nyatanya sehingga kami cukup tertantang saat riset dan menentukan konsep desain, seperti bagaimana struktur dapat bekerja dan material yang cocok digunakan,” kata Neysya.

Picture of Humas

Humas