
Mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Soegijapranata Catholic University (SCU), Caroline Noel Amaris Purnomo memenangkan National Essay Contest Beswan Djarum 2025/2026. Caroline berhasil bersaing dengan 500 lebih peserta dan mempresentasikan gagasannya di Hotel Grand Mercure, Seminyak, Bali pada pada 25-28 Juni 2026.
Melalui esai berjudul “Di Balik Zona Nyaman Semu: Krisis Hubungan Autentik di Era AI Companion,” Caroline membahas semakin dekatnya kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dengan kehidupan sosial dan emosional manusia. Dalam hal ini, khususnya ketika AI mulai menjadi tempat untuk mencari kenyamanan hingga dukungan emosional.
”Aku tidak ingin tulisanku hanya mengatakan bahwa ‘AI itu berbahaya,’ tetapi ingin memahami mengapa orang bisa sampai bergantung secara emosional kepada AI dan apa yang sebenarnya bisa dilakukan,” ujarnya.
Karyanya pun berhasil terbit di Mojok.co dengan judul “Kesepian Membuat Remaja Memilih AI sebagai Teman Curhat, Lalu Perlahan Menjauhi Manusia.” “Buat aku, ini jadi pengalaman yang menyenangkan karena gagasan yang awalnya aku tulis untuk sebuah kompetisi, akhirnya bisa memiliki ruang yang lebih luas untuk dibaca dan didiskusikan oleh publik,” kesannya.
Latar Belakang
Ketertarikan Caroline pada AI berawal dari pengamatannya terhadap orang-orang yang mulai merasa nyaman mencari dukungan emosional melalui teknologi ini. Rasa penasaran kemudian mendorong Caroline mencari tahu lebih jauh melalui jurnal ilmiah; berita; laporan penelitian, hingga’ regulasi di beberapa negara.
Dari sanalah, ia menemukan bahwa AI Companion mulai mengambil peran dalam kehidupan sosial dan emosional, terutama di kalangan anak muda. AI Companion sendiri merupakan AI yang dirancang untuk berinteraksi secara personal dengan pengguna guna memberikan dukungan emosional selayaknya teman atau pasangan.
Dari proses tersebut, Caroline mulai memetakan masalah, menyusun argumen, sekaligus mencari solusi. Salah satu gagasan yang ditawarkan adalah untuk menghindari AI melainkan digunakan secara lebih sehat dan diimbangi dengan hubungan sosial yang lebih nyata. Namun demikian, ia tidak menampik bahwa sebelumnya ia merasakan keresahan terhadap isu yang diangkat. Hal ini dikarenakan terlebih topik yang dibahas masih tergolong baru dan cukup sensitif.
Persiapan untuk Mengungkapkan Keresahan
Dalam prosesnya, Caroline didampingi Elizabeth Florence Warikar, S.I.Kom., M.I.Kom (Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi) dan Yohanes Alan Sarsita Putra, S.TP., M.TP. (Dosen Program Studi Teknologi Pangan). Keduanya berperan dalam proses penguatan argumen, cara penyampaian gagasan, juga persiapan pada kemampuan presentasi dan public speaking. “Punya tulisan yang bagus saja belum cukup kalau kita nggak bisa menyampaikan gagasan tersebut dengan baik di hadapan juri,” terang Caroline.









