Kuatkan Identitas Sosial dan Budaya Masyarakat, Workshop SCU bersama ENSA Prancis Kaji Kampung Bersejarah di Kota Semarang

Lebih dari 30 mahasiswa dan dosen dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia dan Prancis melakukan kajian terhadap kampung bersejarah di Kota Semarang. Kajian terhadap 4 kampung: Kranggan; Sekayu; Bustaman, dan; Melayu dikemas dalam International Research Workshop “Learning from the Kampung: Stories of Urban Informality and Resilience.” Workshop diselenggarakan Soegijapranata Catholic University (SCU) dan École Nationale Supérieure d’Architecture de Paris-La Villette (ENSAPLV) pada 6-16 September 2026.

Kerja Sama Riset

Sebagai rangkaian riset bersama antara SCU dan ENSAPLV, workshop bertujuan untuk mengkaji kampung sebagai struktur sejarah dan sosial-spasial Kota Semarang. Adapun implementasinya: pemetaan; observasi; fotografi; videografi; wawancara, serta; keterlibatan masyarakat. Dihadirkan pula perkuliahan dengan diskusi yang dapat memperkuat penyusunan hasil kajian yang juga akan dipamerkan.

Koordinator Workshop, Christian Moniaga, S.T., M.Ars. mengatakan bahwa workshop fokus pada proses pemetaan (mapping) setiap kampung. “Bukan hanya aspek fisik kawasannya, melainkan juga pada upaya dalam memahami identitas, kehidupan sosial, dan karakter yang membentuk setiap kampung,” terangnya.

Sejalan dengan itu, sejumlah narasumber: B. Tyas Susanti, M.A., Ph.D. (SCU); Widiyani, S.T., M.T., Ph.D. (ITB); Jim Njoo (ENSAPLV); Wiryono Raharjo (UII); Kanosa Akbar (Architecture Sans Frontières Indonesia); Angeline Basuki (Museum Arsitektur Indonesia, DECorient), dan; Kiky Martaty (Alliance Française Semarang), membagikan perspektif sesuai bidang keahliannya. Beberapa di antaranya mulai dari; pendekatan placemaking dan mapping; dokumentasi, hingga; pengolahan hasil riset menjadi film dokumenter; foto; booklet, serta; sketsa.

Karakter dan Identitas Kampung

Sebelumnya, workshop serupa telah diselenggarakan ITB di Kota Bandung yang juga menjadi lokasi penelitian. Riset yang telah memasuki tahun keduanya ini bertujuan untuk mengetahui cara pemberdayaan, pengembangan, serta pelestarian kampung di tengah berbagai tekanan urbanisasi. “Karena ada ancaman dari luar, misalnya perkembangan perkotaan karena ekonomi dan seterusnya,” kata Ketua Peneliti, Dr. Rachmad Djati Winarno, M.Psi.

Menurutnya, kampung berperan penting dalam perkembangan kota, mengingat kawasan tersebut mempunyai nilai sejarah, sosial, hingga ekonomi. “Identitas masyarakat di sana berkembang secara organik. Di Semarang banyak kampung bersejarah yang mempunyai karakter dan dinamika yang beragam. Makanya relevan dengan riset ini,” jelasnya.

Widiyani menambahkan hasil kajian sebelumnya di Kota Bandung telah menghasilkan pengalaman yang berbeda dengan Kota Semarang. “Karena setiap kampung mempunyai ‘roh’ dan identitasnya sendiri, karakternya juga berbeda,” katanya. Menurutnya, hadirnya ENSAPLV sebagai mitra penelitian akan memberikan perspektif berbeda.

Senada dengan itu, Djim mengatakan bahwa Asia mempunyai model urbanisme yang berbeda, khususnya terkait praktik pembangunan yang tumbuh secara informal dan bottom-up. Ia menambahkan bahwa kampung di Indonesia telah memberikan perspektif baru jika dibandingkan dengan kotak-kota di Eropa, mengingat sistem pembangunan di sana mempunyai regulasi yang kuat. “Penting untuk melibatkan masyarakat dalam setiap proses pembangunan. Walau masih terbatas, kesadaran tentang praktik informal tersebut mulai tumbuh di Eropa selama beberapa dekade terakhir,” katanya.

Picture of Humas

Humas