
Wali Kota Semarang, Dr. Agustina Wilujeng Pramestuti, S.S., M.M. mengapresiasi penyelenggaraan Kompetisi Debat Wali Kota oleh Himpunan Mahasiswa Ilmu Hukum (HMPSIH) Fakultas Hukum dan Komunikasi (FHK) Soegijapranata Catholic University (SCU). Berlangsung di Gedung Albertus, Kampus 1 SCU Bendan pada 27-29 Juli 2026, program kerja rutin tahunan HMPSIH SCU tersebut mengumpulkan 36 siswa dari 12 SMA se-Kota Semarang untuk beradu gagasan.
Kompetisi ini menurut Dr. Agustina penting sebagai ruang bagi generasi muda, khususnya siswa SMA/K, dalam mengasah kemampuan berpikir kritis, menyusun argumentasi, serta menyampaikan gagasan secara logis. Menurutnya, kemampuan intelektual dan penguasaan bahasa yang dilatih dalam kompetisi menjadi relevan di tengah gempuran hadirnya kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Ia pun menekankan pentingnya kedua hal tersebut di tengah perkembangan teknologi yang begitu cepat.
“AI bisa dimanfaatkan oleh kita sebagai manusia. Namun kualitas manusia yang menggunakannya tetap menjadi faktor utama dalam menentukan keberhasilannya. Sehingga, kemampuan dalam berpikir, memahami konteks, maupun menentukan sikap mestinya tidak dapat digantikan,” katanya dalam sambutan.
Kompetisi Debat
Sejalan dengan itu, Dekan FHK SCU, Dr. B. Resti Nurhayati, S.H., M.Hum. menambahkan perkembangan teknologi, termasuk AI, tidak menggeser pentingnya kemampuan manusia untuk berpikir secara mendalam. “Kemampuan berpikir jernih dan mendalam tetap dibutuhkan untuk menemukan solusi atas berbagai persoalan bangsa dan hukum di tengah perubahan yang berlangsung cepat,” kata Dr. Resti.
Melalui kompetisi debat, para siswa tidak hanya dituntut untuk menyampaikan pendapat, melainkan juga membaca persoalan, melihat sudut pandang yang berbeda, serta menguji argumentasi. Proses tersebut menurut Dr. Agustina penting dalam membentuk pola pikir kritis generasi muda untuk menghadapi derasnya arus informasi.
“Jadi teman-teman jangan berhenti belajar setelah kompetisi. Terus berpikir dan jadilah generasi muda yang siap menyambut modernitas tanpa kehilangan akar dan identitas sebagai bangsa Indonesia,” tuturnya kepada peserta kompetisi. Lebih lanjut, kemampuan tersebut menurutnya diperlukan untuk mengolah pemikiran secara objektif, logis, dan mendalam terhadap berbagai persoalan di masyarakat.
Berbagai isu yang dekat dengan kehidupan masyarakat pun menurut keterangan Ketua Kompetisi Debat Piala Wali Kota, Robby Nasution diangkat sebagai mosi dalam kompetisi. Beberapa di antaranya seperti filter kecantikan, batas usia pejabat publik, hingga perampasan aset koruptor. “Kami ingin mendekatkan isu-isu terkini untuk diperdebatkan oleh para peserta, sekaligus mengajak mereka memahami berbagai persoalan dari berbagai sudut pandang,” tuturnya.









