Dari Perkebunan Teh ke Kebijakan Kesehatan, Promovenda PDIL SCU Kembangkan Model Shinrin-Yoku Berbasis Lingkungan

Lingkungan alam tidak hanya memiliki fungsi ekologis dan ekonomi, tetapi juga berpotensi menjadi sumber daya kesehatan. Gagasan tersebut menjadi fokus penelitian yang dikembangkan oleh Promovenda Program Doktor Ilmu Lingkungan (PDIL) Soegijapranata Catholic University (SCU), Erny Amperawati, S.H., M.H.Kes. Penelitian tersebut ia paparkan dalam Ujian Terbuka Promosi Doktor yang diselenggarakan PDIL SCU di Teater Thomas Aquinas, Kampus 1 SCU Bendan, Senin (27/7).

Melalui disertasi berjudul “Pengembangan Model Shinrin-Yoku di Kawasan Perkebunan Teh Kemuning bagi Kebijakan Pelayanan Kesehatan Tradisional Komplementer,” Erny menawarkan pendekatan kesehatan berbasis lingkungan dengan mengadaptasi konsep Shinrin-Yoku atau forest bathing ke ekosistem perkebunan teh tropis di Indonesia.

Disertasi

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tingginya hipertensi yang masih menjadi salah satu tantangan kesehatan masyarakat di Indonesia. Selama ini, penanganan hipertensi masih didominasi oleh terapi farmakologis sehingga diperlukan pendekatan komplementer yang mampu memperkuat upaya promotif dan preventif dalam menjaga kesehatan masyarakat.

Dalam riset nya, Erny memilih Kawasan Perkebunan Teh Kemuning di Kab. Karanganyar, Prov. Jawa Tengah, sebagai lokasi penelitian. Sebanyak 14 penderita hipertensi berusia 51–70 tahun mengikuti rangkaian aktivitas Shinrin-Yoku untuk mengamati pengaruh interaksi dengan lingkungan alami terhadap kondisi fisiologis maupun psikologis mereka.

“Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang sangat besar. Selama ini lingkungan alam lebih banyak dimanfaatkan sebagai objek wisata, padahal memiliki potensi besar sebagai sumber daya kesehatan (health resource),” ujar Erny saat memaparkan hasil penelitiannya.

Hasil Penelitian

Hasil penelitian menunjukkan sekitar 70% partisipan mengalami kecenderungan penurunan tekanan darah setelah mengikuti aktivitas Shinrin-Yoku. Selain manfaat fisiologis tersebut, hampir seluruh partisipan juga melaporkan perubahan psikologis yang positif, seperti meningkatnya rasa tenang, rileks, nyaman, bahagia, kesadaran diri, serta motivasi yang lebih kuat untuk menjaga kesehatan.

Temuan tersebut memperkuat pandangan bahwa lingkungan alami dapat berfungsi sebagai lingkungan pengobatan yang mendukung kesehatan fisik dan mental. Berdasarkan hasil tersebut, Erny kemudian mengembangkan Model Shinrin-Yoku bagi Kebijakan Pelayanan Kesehatan Tradisional Komplementer, sebuah kerangka konseptual yang mengintegrasikan lingkungan sebagai sumber daya kesehatan, interaksi manusia dengan alam, manfaat fisiologis dan psikologis, serta pelayanan kesehatan tradisional komplementer.

Namun demikian, ia menegaskan bahwa Shinrin-Yoku bukanlah pengganti terapi medis maupun pengobatan farmakologis. “Pendekatan ini diposisikan sebagai bagian dari pelayanan kesehatan tradisional komplementer berbasis lingkungan yang mendukung upaya promotif dan preventif untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat,” tandasnya.

Penelitian ini sejalan dengan arah pembangunan kesehatan nasional yang mendorong pengembangan pelayanan kesehatan tradisional komplementer berbasis bukti ilmiah. “Harapannya kekayaan alam Indonesia tidak hanya dimanfaatkan sebagai destinasi wisata, tetapi juga dikembangkan sebagai sumber daya kesehatan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” harap Erny. (Humas SCU/Tan)

Picture of Humas

Humas