Sejumlah dosen Rumpun Pengembangan (Rumbang) Teori dan Desain Arsitektur, Program Studi Arsitektur, Fakultas Arsitektur dan Desain (FAD), Soegijapranata Catholic University (SCU) melakukan kegiatan Ekskursi Arsitektur ke berbagai bangunan di Jawa Tengah pada Sabtu, 8 Mei 2026.
“Ekskursi bertujuan untuk mempelajari bangunan arsitektur tidak hanya sebagai objek fisik, tetapi juga sebagai jejak sejarah, ekspresi gagasan desain, respons, serta pengalaman ruang yang dirasakan secara langsung. Objek-objek yang dikunjungi mempunyai nilai penting dalam pembelajaran teori, sejarah, dan desain arsitektur,” ujar Dosen Program Studi Arsitektur SCU, Ratih Dian Saraswati, ST., M.Eng.
Kunjungan pertama dilakukan ke Benteng Pendem Ambarawa atau Benteng Willem I, bangunan peninggalan kolonial Belanda abad ke-19 yang terletak di Kab. Semarang. Para dosen mempelajari hubungan antara bentuk, fungsi, sejarah, dan konteks ruang pada bangunan benteng.
Ratih menjelaskan bahwa Benteng Pendem memperlihatkan bagaimana bangunan lama menyimpan strategi desain pasif yang masih relevan hingga saat ini. “Selama kunjungan, kami merasakan kualitas ruang dalam Benteng Pendem yang nyaman dan tidak panas. Hal ini didukung oleh ventilasi silang yang baik, bukaan yang berhadapan, dinding masif, serta naungan panjang yang melindungi area sirkulasi dari paparan panas langsung,” jelasnya.
Selain sebagai bangunan bersejarah, Benteng Pendem kini mulai diadaptasi menjadi destinasi wisata dengan menghadirkan cafe dan restoran di dalam kawasan benteng. Menurut Ratih, adaptasi ini menunjukkan bagaimana bangunan bersejarah dapat dihidupkan kembali melalui pendekatan adaptive reuse tanpa kehilangan nilai historisnya.
Ekskursi kemudian dilanjutkan ke Pertapaan Bunda Pemersatu Gedono, karya Rm. Y.B. Mangunwijaya yang berada di lereng timur laut Gunung Merbabu. Kompleks biara rubiah Katolik Ordo Trapis tersebut dinilai memiliki nilai penting dalam pembelajaran arsitektur karena menunjukkan kepekaan terhadap alam, spiritualitas, dan kebutuhan komunitas. “Jika Benteng Pendem mengajak kami membaca sejarah, kekuasaan, dan perubahan fungsi ruang, maka Pertapaan Gedono menghadirkan pengalaman arsitektur yang lebih hening, kontemplatif, dan manusiawi,” kata Ratih.
Ia menambahkan, penggunaan material alami seperti batu, kayu, dan bambu menjadi bagian penting dalam membangun relasi harmonis antara bangunan dan lanskap sekitar. Kesederhanaan bentuk, pengendalian skala, permainan cahaya, serta kedekatan dengan alam memperlihatkan karakter arsitektur Rm. Mangunwijaya yang humanis dan kontekstual.
Lokasi terakhir yang dikunjungi adalah Pitu Rooms Salatiga, hotel kontemporer rancangan arsitek Ary Indra bersama Biro Sahabat Selojene. Hotel tersebut dikenal sebagai salah satu contoh micro-architecture karena berdiri di atas lahan sempit dengan lebar sekitar 2,8 meter. “Kami juga memperoleh kesempatan untuk menengok salah satu kamar hotel. Hal yang cukup mengejutkan adalah bahwa meskipun Pitu Rooms dikenal sebagai salah satu hotel tertipis di Indonesia, rasa ruang di dalamnya tidak sesempit yang dibayangkan,” ungkap Ratih.
Menurutnya, pengolahan tata letak, pencahayaan, bukaan, furniture, serta detail interior menjadi faktor penting yang membuat ruang tetap terasa nyaman dan memiliki karakter kuat. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa keterbatasan lahan justru dapat menjadi pemicu inovasi desain arsitektur.
Hasil pengamatan dalam ekskursi nantinya akan dimanfaatkan untuk memperkaya materi pengajaran, studi kasus dalam mata kuliah teori dan desain arsitektur, hingga membuka peluang pengembangan kajian dan tulisan akademik. “Harapannya kegiatan seperti ini bisa rutin dilaksanakan dan diikuti tidak hanya dosen namun juga para mahasiswa,” pungkasnya.









