Soegijapranata Catholic University (SCU) kembali memeriahkan Karnaval Paskah Kota Semarang 2026 yang diselenggarakan Pemkot Semarang pada Jumat (17/4). Kegiatan tahunan ini diawali dengan ibadah di kawasan Gereja Blenduk, Kota Lama, sebelum peserta melakukan kirab menuju Balai Kota Semarang. Ribuan peserta dari berbagai komunitas lintas iman, lembaga pendidikan, ingga kelompok masyarakat turut meramaikan perayaan yang menjadi simbol kuat kerukunan di Semarang.
Dalam karnaval tahun ini, SCU hadir melalui keterlibatan mahasiswa dari Campus Ministry serta penerima Program Beasiswa Paroki (Bespar). Menurut Kepala UPT Kemahasiswaan dan Alumni SCU, Fx. Agung Prasetyo, kehadiran pihaknya merupakan bentuk semangat pelayanan, persaudaraan, dan keterbukaan lintas iman yang terus dihidupi kampus.
“SCU tidak hanya hadir sebagai peserta, tetapi benar-benar memeriahkan karnaval ini dengan semangat pelayanan dan persaudaraan. Kami ingin membawa pesan bahwa kebangkitan Kristus adalah harapan bagi semua,” tutur Agung.
Selain kehadiran mahasiswa, SCU juga menampilkan maskot Mgr. Soegijapranata, patron universitas sekaligus Uskup Pribumi Pertama yang dikenal sebagai pelopor toleransi dan pembela kemanusiaan. Kehadiran maskot ini menjadi simbol nilai perjuangan yang terus diwariskan sekaligus memperkenalkan figur penting bangsa kepada masyarakat luas.
“Mgr. Soegijapranata adalah inspirasi utama kami. Dengan memperkenalkan maskot beliau dalam karnaval ini, kami ingin mengajak masyarakat untuk mengenal lebih dekat figur yang menjadi patron universitas kami sekaligus tokoh besar bangsa,” jelas Agung.
Bersamaan dengan itu, keterlibatan SCU dalam karnaval ini mencerminkan komitmen universitas dalam mendukung dialog dan kerja sama lintas iman. Di tengah masyarakat yang majemuk, partisipasi aktif mahasiswa menjadi pembelajaran kontekstual yang menanamkan nilai toleransi, empati, dan keberpihakan pada sesama.
Sementara itu, Wali Kota Semarang, Dr. Agustina Wilujeng Pramestuti, S.S, M.M menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari dinamika kota yang terus bergerak sekaligus menghadirkan ruang kebersamaan bagi masyarakat. “Kegiatan ini menjadi bagian dari kehidupan kota yang terus bergerak, menghadirkan ruang bagi masyarakat untuk saling bertemu dan berbagi kebahagiaan di ruang publik,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa kekuatan kota justru lahir dari keberagaman yang dikelola dengan baik. “Seringkali kita berpikir kebersamaan lahir karena kesamaan. Padahal justru karena perbedaan itulah kebersamaan menjadi kuat dan berarti,” tegasnya.
Menurutnya, Karnaval Paskah tahun ini menjadi refleksi bahwa pembangunan kota tidak hanya berfokus pada infrastruktur, tetapi juga pada pembangunan ruang sosial yang inklusif. Partisipasi berbagai komunitas, termasuk kelompok difabel yang tampil percaya diri di ruang publik, menunjukkan bahwa kesetaraan terus dihidupkan dalam praktik kehidupan kota. “Luar biasa, dari berbagai macam forum komunitas ikut hadir. Ini menunjukkan Kota Semarang kota yang damai dan nyaman,” katanya.
Ia menambahkan, suasana kondusif dan kerukunan umat beragama tidak hanya menciptakan ketenteraman, tetapi juga menjadi daya tarik strategis bagi pengembangan pariwisata serta peningkatan iklim investasi daerah ke depan.









